Hikmah Ramadan 2025

Hikmah Ramadan: 3 Cara Merawat Kemabruran Puasa dari Syukur ke Syakur

Ada tiga tingkatan syukur yang sering dipahami secara rancu, yakni Tahmid, Syukur dan Syakur.

Editor: Minarti Mansombo
zoom-inlihat foto Hikmah Ramadan: 3 Cara Merawat Kemabruran Puasa dari Syukur ke Syakur
Kolase Tribunnews/Wikipedia
HIKMAH RAMADAN - 3 Cara Merawat Kemabruran Puasa dari Syukur ke Syakur. Tahmid dan syukur banyak dilakukan orang, lebih banyak lagi yang tidak bertahmid dan tidak bersyukur. Syakur amat terbatas orang yang bisa sampai ke sana.  

TRIBUNGORONTALO.COM-Tribunners, hari ini tepat Ramadan ke-19, selain menjaga hati kita pun harus pandai dalam merawat kemabruran puasa.

Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA memberikan tips merawat kemabruran puasa dan Syukur ke Syakur.

Ada tiga tingkatan syukur yang sering dipahami secara rancu. 

Pertama Tahmid, yaitu mengucapkan lafaz alhamdulillah, saat kita memperoleh keberuntungan.

Kedua, syukur, yaitu menyandarkan segala nikmat itu kepada Sang Pemberi Nikmat, yaitu Allah SWT dengan sikap rendah diri. Seseorang baru disebut bersyukur manakala memberikan hak-hak orang lain dari harta yang Allah berikan kepada kita.

Baca juga: Cara Bayar Zakat Fitrah Lewat TribunX

Misalnya gaji dan pendapatan lain yang kita peroleh sebulan dikeluarkan minimum 2,5 persen kepada para mustahiq sebagai bagian dari zakat dan shadaqah kita. Inilah yang disebutkan di dalam Alquran:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih". (Q.S. Ibrahim/14:7).

Ketiga, syakur, yaitu orang-orang yang tidak hanya mensyukuri kenikmatan, kebahagiaan, dan keberuntungan, tetapi juga mensyukuri segala bentuk musibah, penderitaan, malapetaka, dan kekecewaan yang melanda dirinya. 

Segala bentuk penderitaan dan kemalangan dianggapnya sebagai “surat cinta” Tuhan. Sekian lama ia dipanggil Tuhan dengan kenikmatan dan kebahagiaan tetapi tidak menyadarinya, bahkan terkadang mabuk dengan kemewahan dan kenikmatan hidup.

Nama Tuhan yang disebut ketika dalam keadaan bahagia dan senang tidak seakrab dan sedalam ketika di dalam suasana kepedihan dan penderitaan. 

Tahmid dan syukur banyak dilakukan orang, lebih banyak lagi yang tidak bertahmid dan tidak bersyukur. Syakur amat terbatas orang yang bisa sampai ke sana. 

Allah SWT juga menyatakan: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih. (Q.S. Saba’/34:13).

Syakur sebagai tingkat kesyukiran paling tinggi, dambaan semua orang. Betapa tidak, orang yang sudah sampai di tingkatan ini dadanya akan lapang, selapang dengan samudra, sehingga betapapun banyak kotoran mengalir dari sungai tidak akan pernah bisa merubah warna air samudra.

Sebaliknya jika dada orang sempit maka ia akan merasa sumpek, sehingga sekecil apapun kritikan dialamatkan pada dirinya langsung terasa sesak dan stress, seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an:

Baca juga: Daftar Harga Perabot Rumah Tangga di Toko Putra Mandiri Meuble Gorontalo, Ada Kredit Bunga 0 Persen

Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Q.S. al-An’am/6:125).

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved