Gempa Bumi

Gempa Magnitudo 2,4 Guncang Luwu Timur, Ini Potensi dan Mitigasi yang Perlu Diketahui

Meskipun magnitudonya kecil, gempa dangkal sering kali dirasakan lebih kuat di permukaan dibandingkan dengan gempa yang terjadi di kedalaman lebih bes

Editor: Wawan Akuba
BMKG
GEMPA BUMI -- Baru saja terjadi gempa bumi pada 11 Mar 2025, 14:35:08 Wita. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Gempa bumi dengan magnitudo 2,4 mengguncang Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, pada Selasa, 11 Maret 2025, pukul 14.35 Wita.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa ini terjadi pada kedalaman 10 km.

Gempa dengan kedalaman 10 km tergolong sebagai gempa dangkal.

Gempa jenis ini umumnya terjadi akibat aktivitas sesar aktif atau pergerakan lempeng tektonik di kerak bumi. 

Meskipun magnitudonya kecil, gempa dangkal sering kali dirasakan lebih kuat di permukaan dibandingkan dengan gempa yang terjadi di kedalaman lebih besar.

Baca juga: Pemda Gorontalo Utara Minta Dana PSU Dikurangi, KPU dan Bawaslu Kompak Menolak

Kabupaten Luwu Timur sendiri berada di wilayah yang cukup rentan terhadap aktivitas tektonik.

Beberapa sesar aktif yang berada di Sulawesi Selatan, termasuk Sesar Matano dan Sesar Palu-Koro, bisa menjadi pemicu aktivitas gempa di daerah ini.

Meskipun gempa kali ini tidak menimbulkan kerusakan atau korban jiwa, kejadian ini menjadi pengingat bahwa wilayah ini tetap memiliki potensi aktivitas seismik.

Hubungan Kedalaman dan Magnitudo

Dalam kajian seismologi, kedalaman gempa memiliki pengaruh terhadap dampaknya di permukaan.

Gempa yang terjadi pada kedalaman lebih dari 70 km umumnya tidak terlalu dirasakan karena energi gempa telah melemah sebelum mencapai permukaan. 

Sebaliknya, gempa dengan kedalaman kurang dari 30 km, seperti yang terjadi di Luwu Timur ini, dapat lebih dirasakan oleh masyarakat sekitar episentrum meskipun magnitudonya kecil.

Gempa dengan magnitudo 2,4 sendiri tergolong sebagai gempa mikro dan biasanya tidak menimbulkan kerusakan.

Namun, dalam beberapa kasus, gempa mikro dapat menjadi indikasi adanya pergerakan tektonik yang lebih besar di masa depan. 

Oleh karena itu, pemantauan aktivitas gempa secara berkelanjutan sangat diperlukan untuk memahami pola seismik di wilayah ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved