Banjir di Bone Bolango

Masyarakat Bone Bolango Gorontalo Mulai Bersih-Bersih Rumah Pasca Banjir, BPBD: Tetap Waspada

Masyarakat korban banjir di sejumlah desa di Kabupaten Bone Bolango mulai bersih-bersih rumah mereka.

Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
TribunGorontalo.com/Arianto Panambang
PASCA BANJIR: Kondisi terkini di Desa Tana Putih, Kecamatan Botupingge Bone Bolango, Minggu (9/3/2025). Banjir kini telah surut. Masyarakat mulai bersih-bersih. (Sumber foto: TribunGorontalo.com/Arianto Panambang). 

Diberitakan TribunGorontalo.com sebelumnya, banjir juga sempat melanda permukiman di Kota Gorontalo.

Karena kesal genangan air tak kunjung surut, sejumlah warga Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, mengambil langkah ekstrem.

Dengan peralatan seadanya, mereka nekat menjebol tanggul di sekitar Danau Limboto pada Rabu (5/3/2025).

Pantauan TribunGorontalo.com, puluhan warga berbondong-bondong membuat saluran sejak pagi hingga sore tadi.

Mereka menggunakan cangkul, sekop, bahkan tangan kosong demi membuka jalan air yang selama ini menggenangi rumah mereka.

Hujan yang tak henti mengguyur Gorontalo mengubah permukiman Dembe ini seperti desa terapung.

Air hujan menggenangi rumah-rumah. Lantai rumah pun mulai retak, tiang kayu jadi lapuk, dan perabotan rusak.

"Kami sudah tidak tahan. Setiap malam kami tidur dalam ketakutan. Kalau hujan turun sebentar saja, air langsung naik lagi," ungkap Siswati Ibrahim, warga Dembe saat ditemui TribunGorontalo.com, Rabu (5/3/2025).

Siswati lantas menunjukkan tiga rumah yang benar-benar tenggelam sejak Juli 2024.

Lebih parahnya lagi, puluhan rumah lainnya telah terendam sejak 2019.

"Banjir ini bukan lagi dari Danau Limboto, tapi air limbah rumah tangga yang tertahan di sini. Baunya busuk, tak ada sirkulasi air, penuh dengan lintah dan kaki seribu. Kami hidup di antara sarang penyakit," jelasnya.

Lebih lanjut, Siswati menjelaskan warga Dembe terpaksa bertahan di rumah-rumah panggung darurat yang dibangun di atas bangunan lama yang tenggelam.

"Kami seperti burung. Kadang tidak bisa turun karena di bawah sudah penuh hewan-hewan menjijikkan," ujar Siswati.

Di antara warga yang masih bertahan, ada 63 kepala keluarga yang menghuni sekitar 38 rumah.

Tiga rumah di antaranya sudah terendam total selama tujuh bulan. Bahkan ada balita yang hidup dalam kondisi tempat tinggal memprihatinkan itu.

Halaman
123
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved