Kultum Ramadan 2025
Mohammad Afandi: Ramadan Bisa Menjadi Bulan Keberuntungan dan Kesengsaraan
Mahasiswa Ilmu Hadist Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo kembali mengisi program Kurma (Kultum Ramadan)
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
TRIBUNGORONTALO.COM – Mahasiswa Ilmu Hadist Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo kembali mengisi program Kurma (Kultum Ramadan) pada Minggu (2/3/2025) sore.
Program ini merupakan kolaborasi antara TribunGorontalo.com dengan 30 Mahasiswa Ilmu Hadist IAIN Sultan Amai Gorontalo, yang tayang setiap hari pukul 17.00 WITA di YouTube dan Facebook TribunGorontalo.com.
Kali ini, Mohammad Afandi, mahasiswa Jurusan Ilmu Hadist Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo, membawakan kultum berjudul "Ramadan Bisa Menjadi Bulan Keberuntungan dan Kesengsaraan".
Dalam tausiyahnya, Mohammad Afandi mengingatkan bahwa Ramadan adalah nikmat yang sangat agung. Sebab, di bulan ini, Allah melipatgandakan pahala bagi setiap amal kebaikan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barang siapa yang mendekatkan diri dengan satu kebaikan (sunnah) pada bulan Ramadan, maka pahalanya seperti melakukan suatu kewajiban di bulan lain. Dan siapa yang mengerjakan satu kewajiban di bulan Ramadan, maka pahalanya seperti mengerjakan 70 kewajiban di bulan lainnya." (HR. Ibnu Khuzaimah).
Karena itu, Afandi mengajak umat Islam untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, hanya demi melayani hawa nafsu.
Dalam analoginya, Afandi menggambarkan sebuah lowongan pekerjaan dengan gaji 100 triliun per hari. Jika ada pekerjaan seperti itu, tentu semua orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Namun, ada orang yang sangat rugi, yaitu mereka yang menolak kesempatan besar ini.
"Tahu tidak, siapa orang yang sangat merugi? Dialah orang yang bertemu dengan bulan Ramadan tetapi tidak mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala," tegasnya.
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
"Barang siapa yang mendapati Ramadan, kemudian dia mati dalam keadaan tidak mendapatkan ampunan, lalu dimasukkan ke neraka, maka ia telah dijauhkan dari rahmat Allah." (HR. Ahmad).
Afandi juga mengingatkan bahwa usia muda adalah masa spesial yang akan dipertanggungjawabkan di hari kiamat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Pada hari kiamat, kedua kaki manusia akan berhenti untuk dimintai pertanggungjawaban tentang empat hal: umur dihabiskan untuk apa, waktu muda digunakan untuk apa, harta diperoleh dari mana dan dibelanjakan ke mana, serta ilmu yang dimiliki, apakah diamalkan atau tidak." (HR. Al-Bazzar & Ath-Thabrani)
Karena itu, ia mengajak para generasi muda untuk memanfaatkan Ramadan sebaik mungkin dengan beribadah, memperbanyak doa, dan menahan hawa nafsu.
"Mari jadikan Ramadan sebagai bulan keberuntungan, bukan bulan kesengsaraan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan ampunan dan keberkahan di bulan suci ini," tutup Afandi. (*)