Ramadan 1446 H
BRIN Prediksi Hilal Hanya Terlihat di Aceh, Bagaimana Keputusan Kemenag?
Hasil pengamatan ini akan menjadi pertimbangan utama dalam sidang isbat guna menentukan tanggal pasti awal Ramadhan 1446 Hijriah.(*)
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2232023_penentuan-awal-ramadhan-2023_gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa meskipun banyak pihak dapat memprediksi kapan awal Ramadhan 1446 Hijriah atau tahun 2025, keputusan resmi tetap akan ditentukan dalam sidang isbat.
Pernyataan ini disampaikan menanggapi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memprediksi adanya potensi perbedaan penetapan awal puasa antara pemerintah dan Muhammadiyah.
"Semua orang bisa memprediksi," ujar Nasaruddin di Kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Kamis (27/2/2025).
"Tapi keputusan tetap diambil dalam sidang isbat," tambahnya.
Kementerian Agama (Kemenag) akan melakukan pemantauan hilal (rukyatul hilal) di 125 titik di seluruh Indonesia pada 28 Februari 2025 sekitar pukul 07.44 Wita.
Hasil pemantauan ini akan menjadi dasar dalam sidang isbat untuk menentukan 1 Ramadhan 1446 H.
"Kalau hilal terlihat, kenapa harus ditunda? Kalau tidak, ya kita diskusi," lanjut Nasaruddin.
Menurut BRIN, 1 Ramadhan 1446 H diprediksi jatuh pada 2 Maret 2025 berdasarkan metode hisab dan rukyat.
Namun, Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa pada 1 Maret 2025.
Kemenag menggunakan kriteria imkanur rukyat yang ditetapkan oleh MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Kriteria ini yakni hilal dianggap memenuhi syarat jika mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.
Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menyatakan bahwa hilal dengan kriteria tersebut kemungkinan hanya terlihat di Aceh.
"Awal Ramadhan ini, hilal yang memenuhi kriteria MABIMS diprediksi hanya bisa dilihat di Aceh, sedangkan wilayah lain belum memenuhi kriteria," kata Thomas dalam siaran YouTube BRIN Indonesia, Selasa (25/2/2025).
Sidang isbat yang akan digelar Kemenag pada 28 Februari 2025 menjadi momen penentu kapan awal puasa Ramadhan bagi umat Islam di Indonesia.
Dengan adanya potensi perbedaan penetapan, masyarakat diharapkan tetap menghormati keputusan yang diambil dan menjaga persatuan dalam menjalankan ibadah.
Sidang Isbat Ramadhan 2025: Penentu Awal Puasa di Indonesia
Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Sidang Isbat Ramadhan 2025 di Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Jumat (28/2/2025).
Sidang ini akan menjadi penentu awal ibadah puasa Ramadhan 1446 Hijriah di Indonesia, dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang dijadwalkan memimpin jalannya sidang.
3 Tahapan Sidang Isbat Ramadhan 2025
Sidang Isbat ini akan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan organisasi masyarakat Islam (ormas), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ahli falak, serta perwakilan dari DPR dan Mahkamah Agung.
"Seperti tahun-tahun sebelumnya, sidang ini akan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan ormas Islam, MUI, BMKG, ahli falak, serta perwakilan dari DPR dan Mahkamah Agung," ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, di Jakarta, Senin (10/2/2025), dikutip dari laman Kemenag.
Menurut Abu Rokhmad, Sidang Isbat akan berlangsung dalam tiga tahap utama, yaitu:
Pemaparan Data – Presentasi mengenai posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi oleh para ahli.
Verifikasi Hasil Rukyatul Hilal – Konfirmasi hasil pengamatan hilal dari berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia.
Sidang Penetapan – Pembahasan dan pengambilan keputusan berdasarkan data hisab dan rukyat, yang hasilnya akan diumumkan oleh Menteri Agama.
Sidang Isbat: Penentu Awal Ramadhan 2025
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah (Urais Binsyar) Ditjen Bimas Islam Kemenag, Arsad Hidayat, menyatakan bahwa berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak awal Ramadhan 2025 terjadi pada Jumat (28/2/2025) sekitar pukul 07.44 WIB.
Pada hari yang sama, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia diperkirakan berkisar antara 3° 5,91’ hingga 4° 40,96’, dengan sudut elongasi antara 4° 47,03’ hingga 6° 24,14’.
"Dengan kriteria ini, secara astronomi, ada indikasi kuat bahwa hilal akan terlihat. Namun, keputusan akhirnya kita tunggu berdasarkan hasil sidang isbat yang akan diumumkan Menteri Agama,” ujar Arsad.
Untuk memastikan keakuratan pemantauan, Kemenag bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kemenag di berbagai daerah dalam melakukan rukyatul hilal di 125 titik pemantauan di seluruh Indonesia.
Hasil pengamatan ini akan menjadi pertimbangan utama dalam sidang isbat guna menentukan tanggal pasti awal Ramadhan 1446 Hijriah.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.