Hamim Pou Diperiksa Kejati Gorontalo
BREAKING NEWS: Hamim Pou Akhirnya Penuhi Panggilan Kejati Gorontalo setelah 2 Kali Mangkir
Hamim Pou akhirnya memenuhi panggilan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo.
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Mantan-Bupati-Bone-Bolango-Hamim-Pou.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Hamim Pou akhirnya memenuhi panggilan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo.
Sebelumnya Hamim dua kali mangkir dengan alasan sakit. Kala itu Hamim dirawat di rumah sakit Jakarta.
Eks Bupati Bone Bolango itu kini mendapat panggilan ketiga pada Rabu (26/2/2025) siang.
Kepastian kehadiran Hamim Pou dikonfirmasi langsung oleh Kasi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Gorontalo, Dadang Djafar.
“Sudah dilakukan panggilan dua kali, tapi tidak hadir. Jika yang ketiga tidak hadir, maka terpaksa dijemput,” kata Dadang kepada TribunGorontalo.com, Rabu.
Hamim tiba di Kejati Gorontalo mengenakan kemeja dan celana putih polos, dilengkapi peci nasional.
Kehadiran tersangka kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) tahun 2011-2012 ini untuk menjalani proses administrasi.
Setelah itu, ia langsung menuju Kejaksaan Negeri (Kejari) Bone Bolango untuk diperiksa oleh tim Pidana Khusus (Pidsus).
Hingga pukul 11.7 WITA, Hamim Pou masih berada di Kejari Bone Bolango.
Baca juga: BBM Pertalite Disulap Jadi Pertamax, Dirut PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan Jadi Tersangka
Hamim diperiksa soal dugaan keterlibatannya dalam penyalahgunaan dana bansos saat dirinya masih menjabat Bupati Bone Bolango.
Kasus ini diketahui telah berstatus P21 sejak Oktober 2024, yang berarti berkas perkara dinyatakan lengkap dan siap untuk disidangkan.
Namun, tahapan penyerahan tersangka dan barang bukti (tahap dua) sempat tertunda karena Hamim Pou selalu berhalangan ketika diundang Kejati Gorontalo.
Sekadar informasi, kasus dugaan korupsi bansos yang menjerat Hamim Pou ini telah diselidiki sejak 2013 dan baru dinyatakan lengkap (P21) pada Oktober 2024.
Berdasarkan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), kasus korupsi ini menyebabkan kerugian negara sebesar Rp1,7 miliar.
Hamim Pou diduga bertanggung jawab atas penyaluran bansos yang tidak sesuai prosedur, termasuk pemberian dana sebesar Rp152,5 juta tanpa proposal pemohon.