Malaria Gorontalo

Pohuwato Masih Tertinggi Kasus Malaria di Gorontalo, Diduga Gara-gara Kubangan Tambang Emas

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, jumlah kasus malaria di wilayah ini terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, diduga akibat

|
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Wawan Akuba
FOTO: Arianto Panambang, TribunGorontalo.com
KASUS MALARIA - Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Jeane Istanti Dalie saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Selasa (18/2/2025). Kasus Malaria paling banyak terjadi di wilayah Pohuwato Gorontalo. Foto: (TribunGorontalo.com/Arianto Panambang). 

TRIBUNGORONTALO.COM, GorontaloKabupaten Pohuwato masih jadi daerah dengan kasus malaria tertinggi di Provinsi Gorontalo.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, jumlah kasus malaria di wilayah ini terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, diduga akibat kubangan air yang terbentuk dari aktivitas pertambangan.

Hal ini diungkapkan langsung Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Jeane Istanti Dalie saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Selasa (18/2/2025).

Jeane mengungkapkan bahwa sejak 2023 hingga 2024, jumlah kasus malaria di Gorontalo mencapai 1.577 hingga 1.579 kasus.

Dari jumlah tersebut, Kabupaten Pohuwato menjadi daerah dengan angka tertinggi, dengan rata-rata lebih dari 800 kasus per tahun.

"Untuk tahun 2025 ini, khusus Kabupaten Pohuwato, di bulan Januari saja sudah ada 64 kasus. Ini menunjukkan masih adanya penularan setempat," ujar Jeane.

Ia menambahkan bahwa akibat lonjakan kasus yang terus berulang, Pemerintah Kabupaten Pohuwato akhirnya menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Malaria pada Februari 2025.

Status ini diberlakukan karena kasus malaria di Pohuwato belum terselesaikan meski telah memasuki tahun ketiga berturut-turut.

Jeane menjelaskan bahwa salah satu faktor utama penyebaran malaria di Pohuwato adalah banyaknya kubangan air yang terbentuk akibat aktivitas pertambangan.

"Vektor nyamuk Anopheles, yang menjadi penyebab utama penularan malaria, sangat menyukai genangan air seperti yang terdapat di kubangan tambang," jelasnya.

Tak hanya itu Jeane menjelaskan sebagian besar penderita malaria di Pohuwato adalah para pekerja tambang dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi pertambangan.

Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam upaya penanggulangan, seperti distribusi kelambu dan pengobatan bagi warga yang terdampak.

"Kami sudah melakukan berbagai upaya sejak 2022 hingga sekarang, termasuk pendistribusian kelambu dan pengobatan," jelasnya.

"Namun, karena masalah ini belum selesai, Kementerian Kesehatan juga turun tangan dan melakukan pendampingan sejak 2023 hingga 2024 melalui Subdit Malaria," tambah Jeane.

Selain itu Jeane juga menekankan pemerintah daerah dan Kementerian Kesehatan kini terus mengupayakan langkah-langkah pencegahan dan penanganan lebih lanjut untuk menekan angka kasus malaria di Pohuwato

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved