Rabu, 4 Maret 2026

Hujan Jeli di Gorontalo Utara

Misinformasi Hujan Jelly di Gorontalo Utara, Ternyata Hanya Mainan Anak

Ini merupakan informasi keliru yang disebarkan tanpa disengaja. Artinya, penyebar tidak tahu jika informasinya keliru. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Efriet Mukmin | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Misinformasi Hujan Jelly di Gorontalo Utara, Ternyata Hanya Mainan Anak
TribunGorontalo.com
MISINFORMASI -- Hujan jelly yang terjadi di Gorontalo Utara diduga karena mainan anak-anak. Jadi tidak ada hujan jelly. Tidak ada Jelly yang jatuh dari langit. Warga hanya menemukan jelly berserakan di halaman saat hujan selesai, kemudian dianggap jelly itu jatuh dari langit sebagai hujan. 

Dan ternyata setelah saya telusuri secara detail sampai dengan malam ini detik ini,itu hanyalah permainan anak2 yg di hamburkan di jalan,saya sudah berusaha mencari kebenarannya dan baru malam ini saya mendapatkan jawabannya ,maka dari itu saya juga baru klarifikasi   
sekali lagi SAYA memohon MAAF ATAS berita yg sudah saya sebarkan     

Hujan Jelly di Skotlandia

Hujan jeli diketahui pernah terjadi di Skotlandia pada tahun 2009.

Dikutip TribunGorontalo.com dari BBC, seseorang menemukan butiran jeli di Pentlands.

Penemuan ini memicu beragam teori konspirasi.

Beberapa dugaan menyebutkan bahwa zat tersebut adalah sejenis jamur, ekskresi hewan, atau bahkan 'ingus bintang' dari meteorit.

Kemudian pada Agustus 2009, ada bukti ilmiah baru yang menunjukkan bahwa materi misterius ini mungkin berasal dari suatu cairan dari katak. 

Untuk mencoba memecahkan misteri tersebut, Out of Doors telah meminta beberapa ilmuwan untuk memeriksa sampel jeli.

Hans Sluiman, seorang ahli alga di Royal Botanic Garden Edinburgh, mengatakan kepada para pendengar BBC bahwa ia yakin gel itu sendiri bukanlah tumbuhan atau hewan.

Dr Andy Taylor mempelajari jamur di Macaulay Institute di Aberdeen. Ia mengatakan ada filamen jamur di lendir tersebut tetapi setuju dengan Hans bahwa jamur tersebut tumbuh di dalam lendir.

Rekan akademis Hans Sluiman lalu menemukan referensi tahun 1926 di jurnal Nature tentang 'pembusukan bintang'. 

Referensi tersebut mendukung teori bahwa burung dari beberapa spesies tertentu memakan katak atau kodok. Burung itu kemudian memuntahkan ovariumnya hingga jatuh ke daratan.

Hingga berita ini dimuat, belum ada penjelasan ilmiah soal hujan jelly yang bisa saja terjadi. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved