Human Interest Story
Ahmad Petani Kemiri Gorontalo Raup Omzet Rp 300 Juta dalam 2 Minggu, Ternyata Ini Rahasianya
Ahmad, seorang perantau dari Makassar berhasil mengembangkan usaha pertanian kemiri di Gorontalo.
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Pengusaha-yang-sukses-mengembangkan-pertanian.jpg)
Bahkan, ia juga telah memiliki sekitar 60 karyawan, yang bekerja membantu usahanya.
"Alhamdulillah, usaha ini berjalan lancar dan bisa membantu banyak orang. Kami juga melayani pembelian langsung atau melalui transfer untuk pelanggan dari luar daerah," beber Ahmad.
Baca juga: GORONTALO TERPOPULER: Gugatan Merlan & Syamsu Ditolak MK - Adhan Dambea Akan Berkantor di AD Center
KISAH LAIN: Petani 19 Tahun di Gorontalo Utara Raih Omzet Jutaan Rupiah
Petani berusia 19 tahun di Gorontalo Utara sukses bercocok tanam cabai rawit.
Fajrin Djafar merupakan warga Desa Tolongio, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara.
Setelah lulus SMA, Fajrin tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi seperti yag diinginkan oleh orangtuanya.
Justru ia lebih memilih menjadi seorang petani cabai rawit, yang ia yakini kurang diminati remaja seusianya.
Sebelum menjadi petani ia sempat ingin menjadi polisi tapi urung dilakukan karena tinggi badannya kurang memungkinkan.
Awalnya Fajrin membuka lahan milik orangtuanya, melakukan pembersian lahan sampai memilih tanaman.
Harga cabai rawit saat ini lagi mahal-mahalnya di pasaran, ia lebih memilih menanam cabai rawit.
Fajrin mengungkapkan bahwa cabai rawit yang ditanam pada awalnya adalah seribu pohon dengan luas lahan kurang dari satu hektar.
Dengan bibit cabai seribu pohon pertama yang ia tanam, ia mulai merasakan rintangan seperti gangguan hama.
Perawatan yang ia lakukan selalu membersihkan lahan, perwatan tanamam, hingga pemupukan.
Adapun panennya di usia empat bulan, dengan mendapatkan 20 kilogram cabai rawit dijual dengan harga Rp50 ribu.
"Harga cabai yang tidak stabil bisa naik bisa juga turun, kemarin harga turun Rp30 ribu per kilogram," ungkap Fajrin saat di wawancarai TribunGorontalo.com, Selasa (31/12/2024).
Fajrin memanen 10 hari sekali, dengan harga per kilogram berkisar dari Rp30 ribu hingga Rp50 ribu.