Senin, 30 Maret 2026

Human Interest Story

Cerita Mumuh Pedagang Crepes Keliling Pertama di Gorontalo: Pernah Disangka Penjual Es

Mumuh berbagi cerita soal pengalamannya pertama kali menjadi pedagang crepes di Gorontalo.

Tayang:
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Prailla Libriana Karauwan
zoom-inlihat foto Cerita Mumuh Pedagang Crepes Keliling Pertama di Gorontalo: Pernah Disangka Penjual Es
TribunGorontalo.com/Faisal Husuna
PENJUAL CREPES - Mumuh sedang menyiapkan crepes pesanan pelanggan. Begini cerita Mumuh, penjual crepes pertama di Kota Gorontalo. Jumat (31/1/2025) 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Mumuh berbagi cerita soal pengalamannya pertama kali menjadi pedagang crepes di Gorontalo.

Sebelumnya Pria berusia 51 tahun itu itu datang merantau ke Gorontalo 2002.

Ia berasal dari Pulau Jawa memilih Gorontalo sebagai daerah temoattnya mencari penghasilan.

Saat itu, ia belum langsung berdagang crepes, namun masih bekerja sebagai tukang pasang plafon gipsum.

Pada tahun itu, pekerjaan tersebut juga belum banyak digeluti di Gorontalo.

Baca juga: Koleksi Kendaraan Raffi Ahmad, Mobil Paling Mahal Rp 14 Miliar, Ada Moge Rp 1,6 miliar 

Mumuh masih gencar-gencarnya mendapatkan borongan pemasangan plafon itu dari rumah ke rumah selama 6 tahun.

Hingga saat memasuki tahun 2009, beberapa orang kata Mumuh mulai ada yang ikut melakukan pekerjaan itu.

Sejak saat itu pun, Mumuh harus rela berbagi langganan dengan mereka para pekerja plafon gipsum yang mulai menjamur.

Akhirnya, karena sudah banyak yang menggeluti pekerjaan itu, Mumuh pun mencoba peruntungan lain.

Baca juga: Pengecer Dilarang Jual Elpiji 3 Kilogram Mulai 1 Februari 2025, Simak Aturannya

Ia mencoba menjual crepes yang menurut orang Gorontalo masih awam.

Mumuh bahkan pernah mengalami kesulitan saat merintis usaha ini.

Pinjam meminjam sudah dilakukan Mumuh demi terkumpulnya modal untuk memulai usaha ini.

Saat itu, kata Mumuh ia punya hutang sekitar Rp10 juta untuk membangun usaha ini.

"Awal merintis itu saya serba kekurangan, tidak punya modal sama sekali. Saya cari pinjaman. Alhamdulillah dapat, sekitar Rp 1 juta setengah dari teman-teman dulu," ujarnya

Alhasil di tahun 2014, ia resmi berjualan crepes.

Baca juga: Salwan Momika Pria Irak Tewas Ditembak saat Live TikTok, Sempat Viral Gara-gara Bakar Alquran

"Tahun 2014 saya mulai merintis jualan crepes," ucapnya.

Pada awal merintis, ia banting tulang dari pagi sampai malam berdagang.

Berbekal gerobak, ia berkeliling di Kota Gorontalo untuk menjajakan dagangan itu, menyasar para pelajar di sekolah - sekolah.

Crepes saat itu belum banyak diketahui orang-orang, sehingga menjadi tantangan sendiri bagi Mumuh.

Setelah ia jualan dari pagi sampai siang, sorenya Mumuh akan menuju Taman Kota Gorontalo, dan mangkal di sana hingga malam.

Bahkan pernah, sementara ia mendorong gerobak, ada orang yang menyapa dengan nada teriak dari arah belakang.

Baca juga: LHKPN Raffi Ahmad Tercatat Memiliki Bangunan Senilai Rp737,1 Miliar serta Punya Utang Rp136 Miliar

"Mas, mas, sini," teriak orang itu

Meski jaraknya lumayan jauh, Mumuh pun kemudian bergegas balik arah, menghampiri orang itu.

"Iya, mau pesan berapa?," tanya Mumuh

"Pesan es dua mas," kata orang itu santai menjawab Mumuh

Rupanya orang itu mengira Mumuh lagi sedang berjualan es keliling.

Mumuh hanya bisa tersenyum, dengan nada pelan ia bilang, "Saya jualan crepes," ujarnya.

Saat itu ia tidak tidak meneruskan apa respon orang itu, saat tahu kalau ternyata Mumuh bukanlah penjual es keliling.

Baca juga: Sistem Zonasi di Peneriman Siswa Baru Resmi Berubah Nama Jadi Domisili, Apa Bedanya?

"Padahal waktu itu saya sudah jauh dorong gerobak saat dipanggil, ternyata orang itu malah mau pesan es," katanya sambil terbahak mengenang momen itu

Perjuangannya memang tidak mudah, butuh waktu satu tahun untuk mengenalkan crepes hingga berhasil mendapatkan pelanggan.

Tahun 2015, adalah awal kejayaan baru baginya, crepes itu telah jadi incaran warga, khususnya di kalangan pelajar.

Saat itu, crepes milik Mumuh banyak disukai para pelajar di salah satu sekolah di Kota Gorontalo.

Akhirnya waktu itu Mumuh memutuskan untuk menetap berjualan di sekolah itu, sebelum akhirnya pindah ke Taman Kota Gorontalo di sore hari.

Baca juga: Imigrasi Gorontalo Peringati Hari Bhakti ke-75 dengan Donor Darah hingga Bagi-bagi Makanan Bergizi

"Dulu banyak permintaan dari SMA 3 Gorontalo, akhirnya saya sering mangkal di sana, tapi sorenya tetap di taman ini," ungkapnya 

Hingga sekarang, berkat perjuangan itu crepes miliknya telah dikenal masyarakat luas di Gorontalo.

Bahkan kata Mumuh, ada siswa yang dulu kerap membeli crepes miliknya tahun 2015, masih menjumpainya di Taman Kota Gorontalo.

Mumuh sendiri sudah tidak ingat, karena siswa itu datang sudah membawa anaknya.

"Eh mas, masih jualan, ini saya siswa yang sering beli crepes dulu," kata Mumuh menuturkan ucapan pelanggan yang menemuinya itu.

Rasa crepes Mumuh ternyata masih melekat kepada pelanggan saat ia sering keliling di sekolah - sekolah dulu.

Ditahun 2016 Mumuh mulai mendapatkan omset Rp 5 juta per bulan. 

Baca juga: Warga Tolongio Gorontalo Utara Keluhkan Jalan Trans Sulawesi Licin, Genangan Air jadi Penyebabnya

Meski sekarang sudah mulai menurun, karena sudah menjamur pedagang crepes.

"Alhamdulillah tahun 2016 ke atas itu, penghasilan Rp 5 juta per bulan," ujarnya

Saat ini, ia sudah menetap berjualan di Taman Kota Gorontalo

Menunggu pelanggan yang menemani perjuangannya semasa keliling dengan gerobak dulu.

"Sekarang saya, sudah menetap berjualan di sini, sudah banyak juga yang tahu saya di sini," tutupnya

Mumuh mengungkapkan syukur, crepes mulai disukai banyak orang, meski para pedagang pun mulai banyak. 

"Alhamdulillah sekarang sudah banyak yang kenal," sambungnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved