Human Interest Story
Cerita Rahman Yusuf Seorang Marbot Masjid Baiturahman Limboto Gorontalo Berjuang Hidupi Kelurganya
Ia bekerja jadi marbot sudah sekitar empat tahun. Setiap pagi ia menyempatkan diri untuk mengantar dua anak gadisnya ke sekolah.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Rahman-Yusuf-40-seorang-marbot-Masjid-Baiturrahman-Kecamatan.jpg)
Penghasilan di bentor kerap tidak menentu, paling tinggi ia mendapatkan Rp100 ribu terkadang ia hanya mendapat uang sekitar Rp20 ribu.
"Tidak menentu kalau pendapatan di bentor, saya liat sekarang sudah banyak yang punya kenderaan jadi banyak yang sudah tidak naik bentor," jelasnya.
Untungnya, penghasilan tambahan gaji jadi marbot bisa menopang kebutuhan, sebulan ia mendapatkan gaji Rp700 ribu per bulan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Gorontalo.
Pekerja di masjid itu delapan orang sebagai marbot masjid dan tiga orang sebagai security.
Mereka bekerja dari menyapu bagian luar dan dalam, memberitahukan sampah, kelistrikan.
"Jadi kami di sini sudah dibagi tugas ada yang membersihkan bagian dalam dan juga luar," katanya.
Biasanya hari Senin dan Kamis ia dua kali kembali ke masjid sebab, di hari itu ada kegiatan puasa sunnat jadi mereka yang mengatur keperluan buka puasa.
Begitupun hari-hari besar Islam mereka akan stand by dan memiliki pekerjaan tambahan.
Mereka pun memberikan pelayanan prima demi kenyamanan jamaah di Masjid Baiturrahman Limboto.(*)