Minggu, 22 Maret 2026

Human Interest Story

Cerita Rahman Yusuf Seorang Marbot Masjid Baiturahman Limboto Gorontalo Berjuang Hidupi Kelurganya

Ia bekerja jadi marbot sudah sekitar empat tahun. Setiap pagi ia menyempatkan diri untuk mengantar dua anak gadisnya ke sekolah. 

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Cerita Rahman Yusuf Seorang Marbot Masjid Baiturahman Limboto Gorontalo Berjuang Hidupi Kelurganya
FOTO: Jefri Potabuga, TribunGorontalo.com.
Rahman Yusuf (40) dikenal sebagai seorang marbot Masjid Baiturrahman Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo, Senin (27/1/2025). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Rahman Yusuf dikenal sebagai seorang marbot Masjid Baiturrahman Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo.

Pria asli Kelurahan Kayu Bulan itu kini berusia hampir 40 tahun.

Kehidupannya yang penuh perjuangan dan keteguhan hati telah menginspirasi banyak orang di sekitarnya.

Selain menjadi marbot, Rahman juga sering membawa becak motor (bentor) untuk mencari penumpang.

Baca juga: Perayaan Imlek Gorontalo Mulai Terasa di Kelenteng Tulus Harapan Kita

Ia bekerja jadi marbot sudah sekitar empat tahun. Setiap pagi ia menyempatkan diri untuk mengantar dua anak gadisnya ke sekolah. 

Setelah mengantarkan anaknya ia kemudian pergi membersihkan masjid sekiranya pukul 06.30 Wita sampai pukul 09.00 Wita.

"Keseharian saya adalah tukang bentor, saya berja demi anak dan istri tercinta di rumah," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Senin (27/1/2025).

Kemudian jika pekerjaan di masjid selesai, Rahman kembali ke rumah untuk makan dan beristirahat sebentar lalu melanjutkan lagi membawa bentor.

"Kalau pekerjaan di masjid sudah selesai saya kembali ke rumah, istirahat dan makan lalu lanjut cari uang dengan bentor saya," ujarnya.

Saat sore hari, Rahman menjemput kedua anaknya, anak bungsu akan ia jemput sekiranya pukul 13.00 Wita sementara anak sulungnya akan ia jemput pukul 16.00 Wita.

"Jadi keseharian saya begitu terus pak, tapi saya bersyukur setidaknya masih diberikan umur panjang dan badan yang sehat untuk bekerja," terang Rahman.

Baca juga: Warga Keluhkan Jalan Berlubang di Desa Lohumbo Boalemo Gorontalo Rawan Kecelakaan

Dari hasil kerja tersebut untuk kebutuhan dapur keluarga dan biaya anaknya sekolahnya.

"Alhamdulillah, selama bekerja di sini, semua keperluan cukup untuk kebutuhan selama sebulan," bebernya.

Namun demikian, ia juga mengaku masih kurang cukup untuk kebutuhan keluarganya. Hanya saja rasa syukurnya lebih besar sehingga ia tetap berjuang untuk keluarga.

"Cukup dan tidak cukup tetap harus dicukup-cukupkan untuk kebutuhan, pintar-pintar mengelolanya," katanya.

Penghasilan di bentor kerap tidak menentu, paling tinggi ia mendapatkan Rp100 ribu terkadang ia hanya mendapat uang sekitar Rp20 ribu.

"Tidak menentu kalau pendapatan di bentor, saya liat sekarang sudah banyak yang punya kenderaan jadi banyak yang sudah tidak naik bentor," jelasnya.

Untungnya, penghasilan tambahan gaji jadi marbot bisa menopang kebutuhan, sebulan ia mendapatkan gaji Rp700 ribu per bulan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Gorontalo.

Pekerja di masjid itu delapan orang sebagai marbot masjid dan tiga orang sebagai security.

Mereka bekerja dari menyapu bagian luar dan dalam, memberitahukan sampah, kelistrikan.

"Jadi kami di sini sudah dibagi tugas ada yang membersihkan bagian dalam dan juga luar," katanya.

Biasanya hari Senin dan Kamis ia dua kali kembali ke masjid sebab, di hari itu ada kegiatan puasa sunnat jadi mereka yang mengatur keperluan buka puasa.

Begitupun hari-hari besar Islam mereka akan stand by dan memiliki pekerjaan tambahan.

Mereka pun memberikan pelayanan prima demi kenyamanan jamaah di Masjid Baiturrahman Limboto.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved