Rabu, 11 Maret 2026

Aturan dan Pembatasan Media SosiaL

Pemerintah Akan Melakukan Aturan dan Pembatasan Media Sosial untuk Anak-Anak

Peneliti dari Monash University Indonesia, Ika Idris, menyarankan pemerintah untuk menitikberatkan aturan pembatasan media sosial.

Tayang:
Editor: Minarti Mansombo
zoom-inlihat foto Pemerintah Akan Melakukan Aturan dan Pembatasan Media Sosial untuk Anak-Anak
IST
Ilustrasi - Peneliti dari Monash University Indonesia, Ika Idris, menyarankan pemerintah untuk menitikberatkan aturan pembatasan media sosial. 

Sebab anak-anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya.

"Di rumah misalnya anak lihat orangtua main handphone terus, ya dia akan menyontoh hal yang sama. Memang harus pengawasannya diperketat."

'Saya setuju sekali anak-anak dibatasi'
Di Yogyakarta, Nur Wahyuni memiliki anak berusia delapan tahun yang sudah akrab dengan media sosial TikTok.

Perempuan 35 tahun ini memberikan ponsel ke putrinya yang duduk di kelas 3 Sekolah Dasar untuk memudahkan komunikasi. Sebab dia dan sang suami sama-sama bekerja.

Jika ada keadaan mendesak atau darurat, maka anaknya atau orang di rumahnya bisa lebih mudah menghubungi dia.

"Anak saya mulai pegang handphone sejak dia masuk SD. Soalnya enggak ada telepon rumah. Dia di rumah sama neneknya, jadi saya kasih handphone kalau kenapa-kenapa," ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Wahyuni bercerita, anaknya kemungkinan tahu aplikasi TikTok karena pengaruh teman-temannya. Sebab meskipun tak punya akun pribadi, tapi sang anak bisa mengakses secara langsung.

Bedanya, dia tak bisa mengunggah konten video.

Konten-konten yang biasa dilihat anaknya, kata Wahyuni, adalah video berisi kreator berjoget dan lagu-lagu. Selain itu video yang disukainya yakni kreator yang membagi-bagikan uang.

Sampai-sampai, putrinya hafal beberapa nama pemengaruh di TikTok dan kerap menghabiskan waktu di depan layar. Bahkan gara-gara itu, membuat anaknya tak keluar kamar seharian.

Khawatir dengan kondisi tersebut, dia membuat aturan hanya membolehkan bermain media sosial di akhir pekan.

"Saya bikin aturan sampai dua kali. Sebelum aturan pertama itu, sama sekali bablas, itu waktu dia awal-awal masuk SD."

Aturan itu, sambungnya, merupakan hasil diskusi dengan suami. Sebab pasangan ini merasa penggunaan media sosial yang berlebihan berdampak buruk pada putrinya.

Fokus belajar jadi berkurang dan susah untuk konsentrasi. Saat dipanggil pun, anaknya tak langsung merespon.

Kini, selain membatasi Wahyuni juga membuat sang anak sibuk dengan aktivitas lain. Ia memasukkan bocah itu mengaji dan les di luar waktu sekolah.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved