Imlek Gorontalo

Shio Ular Kayu Akan Warnai Imlek 2025 di Gorontalo

Shio ini melambangkan kebijaksanaan, kecerdikan, dan kemampuan beradaptasi. Menurut mitologi Tionghoa, shio Ular sering diasosiasikan dengan kecerda

Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
AI Generated
Perayaan Imlek 2025 di Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, GorontaloTahun 2025 dalam kalender Tionghoa merupakan tahun Shio Ular Kayu, shio keenam dalam siklus 12 tahun yang dikenal dalam tradisi Tionghoa.

Shio ini melambangkan kebijaksanaan, kecerdikan, dan kemampuan beradaptasi.

Menurut mitologi Tionghoa, shio Ular sering diasosiasikan dengan kecerdasan dan intuisi.

Dalam unsur Kayu, Ular mendapatkan tambahan karakteristik berupa pertumbuhan, kreativitas, dan kestabilan.

Unsur Kayu juga menggambarkan fleksibilitas dan kemampuan untuk bertahan dalam berbagai situasi.

Di Gorontalo, persiapan menyambut Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili sudah dimulai sejak pertengahan Januari.

Salah satu agenda utama adalah pembersihan Klenteng Tulus Harapan Kita pada Minggu, 19 Januari 2025.

Tradisi ini dilakukan untuk menyucikan tempat ibadah sekaligus membersihkan diri menjelang tahun baru.

“Kegiatan ini bukan hanya membersihkan secara fisik, tetapi juga sebagai wujud refleksi diri, menyambut tahun baru dengan hati yang bersih,” kata Siao Kin, Ketua Klenteng Tulus Harapan Kita.

Agenda penting lainnya adalah sembahyang Toa Pekong pada 24 Januari 2025.

Tradisi ini dipercaya sebagai momen di mana dewa-dewi naik ke langit untuk menerima doa dan harapan umat.

Dalam perayaan ini, umat Konghucu di Gorontalo juga menjadikan Shio Ular Kayu sebagai refleksi tentang pentingnya kebijaksanaan dan adaptasi dalam kehidupan sehari-hari.

Hendra Yani menambahkan bahwa shio tahun ini mengajarkan umat untuk tidak memandang segala sesuatu secara negatif, melainkan memahami nilai-nilai positif di balik simbol yang ada.

Pada puncak perayaan Imlek 2576, umat Konghucu di Gorontalo akan mengadakan ibadah bersama sebagai bentuk rasa syukur atas keberkahan yang telah diterima sepanjang tahun lalu.

Meski jumlah jemaat yang hadir tidak pasti, Siao Kin menegaskan bahwa inti dari Imlek adalah refleksi dan syukur, bukan sekadar perayaan fisik.

“Imlek adalah momen untuk merefleksikan perjalanan hidup, mensyukuri apa yang telah kita lewati,” pungkas Siao.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved