Human Interest Story
Karena Kendala Biaya, Remaja Gorontalo Ini Harus Putus Sekolah dan Berjuang Jualan Es di Telaga Park
Namun, tidak demikian bagi Reynaldi Supangat (18), seorang remaja asal Gorontalo yang terpaksa mengubur cita-citanya melanjutkan pendidikan lantaran k
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Reynaldi-Supangat-Penjual-es-di-Telaga-Park-Desa-Bulila.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Masa remaja biasanya menjadi waktu penuh semangat untuk mengejar mimpi.
Namun, tidak demikian bagi Reynaldi Supangat (18), seorang remaja asal Gorontalo yang terpaksa mengubur cita-citanya melanjutkan pendidikan lantaran kendala biaya.
Rey, yang merupakan anak semata wayang, terakhir mengenyam bangku sekolah di kelas XI pada sebuah SMK di Manado, Sulawesi Utara.
Namun, pada tahun 2023, ia harus berhenti sekolah karena tidak ada cukup uang untuk melanjutkan.
Baca Selanjutnya: Demi hidupi anaknya sulastri rela berjualan nasi kuning di angrek gorontalo utara
"Sejak tahun 2023 sudah berhenti karena kendala dana," ucap Rey saat ditemui di lokasi jualannya di kawasan Telaga Park, Desa Bulila, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo, Rabu (8/1/2025).
Rey kehilangan sosok ayahnya ketika ia baru berusia empat tahun.
"Ayah sudah wafat ketika saya masih kecil," kenangnya.
Kini, Rey hanya hidup bersama ibunya, yang bekerja di sebuah salon di Kota Gorontalo.
Namun, Rey tidak ingin menjadi beban bagi sang ibu.
Dengan tekad kuat, ia memutuskan untuk membantu perekonomian keluarga dengan melanjutkan usaha jualan es milik neneknya.
Baca Selanjutnya: Cerita ade safitri stirman gadis berdarah mongondow ukir segudang prestasi di gorontalo
Sebelumnya, usaha ini dikelola oleh salah satu saudaranya.
Setiap hari, mulai pukul 10.00 hingga 16.00 WITA, Rey berdiri di bawah terik matahari, melayani pelanggan yang membeli es di lapaknya.
Es tersebut dijual seharga Rp 10 ribu per porsi, dan dalam sehari ia mampu menjual hingga 300 porsi.
"Baru sekitar beberapa bulan saya di sini," tutur Rey, sambil meracik es untuk pelanggannya.
Meski bekerja keras setiap hari, ia tetap merasa bersyukur.
Baca Selanjutnya: Kisah kashmir samsudin seorang pria asal buol datang ke gorontalo demi jadi guru
"Lokasinya strategis, dan untungnya tempat ini tidak dikenakan retribusi oleh pemerintah setempat," tambahnya.
Dengan keuntungan sekitar 30 persen dari penjualan, Rey menyisihkan sebagian besar uangnya untuk modal yang ia serahkan kepada neneknya.
Sisanya ia gunakan untuk kebutuhan pribadi.
Meski kini ia disibukkan dengan rutinitas berjualan es, Rey masih menyimpan harapan besar untuk melanjutkan pendidikan di masa depan.
Namun, untuk saat ini, ia lebih fokus membantu keluarganya.
"Saya sebenarnya ingin sekali sekolah lagi. Tapi untuk sekarang, saya bersyukur dengan apa yang ada," ucapnya dengan senyum tipis.(*)
| Ajoeba Wartabone dan Jurnalisme Kebangsaan di Masa Revolusi Indonesia |
|
|---|
| Kisah Haru Rosita Manumbi, 16 Tahun Mengabdi Kini Dipercaya Jadi Kepala SDN 13 Pulubala Gorontalo |
|
|---|
| Kisah Fatmawaty Mile, Kepsek SD Tibawa Gorontalo Rela 3 Kali Ganti Kendaraan Tiap Hari Demi Murid |
|
|---|
| Sosok Loli Antuke, Marbot Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo |
|
|---|
| Kisah Annisa Tungkagi, Eks Nakes Gorontalo Rintis Kedai Kopi Jalanan |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.