Sabtu, 7 Maret 2026

Human Interest Story

Herman Mansur, Penjahit di Pasar Sentral Kota Gorontalo Sering Pulang dengan Tangan Kosong

Lantai dua tempat ia menunggu pelanggan tampak sepi, hanya menyisakan deretan lapak kosong dan suasana hening yang kontras dengan harapan perayaan Nat

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Herman Mansur, Penjahit di Pasar Sentral Kota Gorontalo Sering Pulang dengan Tangan Kosong
FOTO: Jefri Potabuga, TribunGorontalo.com.
Herman Mansur, Penjahit di Pasar Sentral Kota Gorontalo saat ditemui Tribun Gorontalo pada Jumat (27/12/2024). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Herman Mansur (70), seorang penjahit di Pasar Sentral Kota Gorontalo, kini menghadapi realitas pahit di akhir tahun.

Lantai dua tempat ia menunggu pelanggan tampak sepi, hanya menyisakan deretan lapak kosong dan suasana hening yang kontras dengan harapan perayaan Natal dan Tahun Baru.

Herman, yang tinggal di Siendeng, Kecamatan Hulonthalangi, telah menekuni profesi sebagai penjahit selama bertahun-tahun.

Ia mulai beroperasi di Pasar Sentral sejak 2021. Namun, setelah renovasi besar-besaran pada pasar tersebut, ia terpaksa pindah ke lantai dua pada November 2023, sebuah lokasi yang ia sebut sebagai "pusat sepi" karena minim pengunjung.

Saat ditemui TribunGorontalo.com pada Jumat (27/12/2024), Herman mengaku kondisi saat ini jauh dari kata baik.

Ia bahkan sering pulang dengan tangan kosong.

"Saya di sini menjahit, tapi bukan lagi jarang, melainkan sering tidak mendapatkan uang," ungkap Herman dengan nada ironis.

Ia menambahkan, penurunan ini bukan hanya terjadi pada akhir tahun, melainkan sudah berlangsung sejak renovasi Pasar Sentral dimulai.

Menurutnya, lamanya proses renovasi dan perpindahan pedagang ke lokasi baru berdampak besar pada jumlah pengunjung pasar.

"Ini sangat parah menurunnya sejak direnovasi. Sekarang pengunjung hampir tidak ada," katanya.

Selain renovasi yang berkepanjangan, Herman juga mengungkapkan bahwa banyak pedagang memilih meninggalkan lapak di Pasar Sentral.

Beberapa membuka usaha di rumah masing-masing, sementara yang lain pindah ke pasar yang dianggap lebih menjanjikan.

"Banyak lapak sekarang kosong. Pedagang merasa rugi karena tidak ada pembeli. Apalagi kami dibebani retribusi yang tidak sebanding dengan pendapatan," ujarnya.

Herman sendiri harus membayar sewa tempat sebesar Rp320 ribu per bulan, sementara penghasilannya seringkali tidak mencukupi.

Dalam sehari, ia bisa mendapatkan hanya Rp15 ribu, atau bahkan tidak sama sekali.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved