Universitas Negeri Gorontalo
La Ode Gusman Nasiru, Dosen Universitas Negeri Gorontalo Gemar Isu Gender & Budaya dalam Karya Tulis
La Ode Gusman Nasiru, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI)
Penulis: Nur Ainsyah Habibie | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/La-Ode-Gusman-Nasiru.jpg)
TRIBUNGORONTAO.COM, Gorontalo – La Ode Gusman Nasiru, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Gusman dikenal sebagai sosok yang seringkali mendalami isu-isu gender dan budaya, yang menjadi tema utama dalam berbagai karyanya.
Menurut pria kelahiran Bau-bau Provinsi Sulawesi Tenggara itu, isu perempuan di tengah kontestasi kebudayaan adalah topik yang sangat krusial untuk terus diperjuangkan.
Ia menyoroti bahwa laki-laki sentris seringkali mengobjektifikasi perempuan melalui berbagai hukum, norma, atau nilai sosial.
Hal ini, menurutnya, membatasi ruang gerak perempuan untuk berekspresi dan menyuarakan gagasan.
“Isu perempuan di tengah kontestasi kebudayaan merupakan isu yang sangat krusial dan urgent untuk terus dibicarakan dan diperjuangkan.
Masyarakat kita yang laki-laki sentris sering kali lupa menempatkan perempuan sebagai subjek dalam sebuah kebudayaan.” ungkap Gusman kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (7/12/2024).
Dedikasi Gusman terhadap isu gender ini tercermin pula dalam karya-karyanya, baik yang berbentuk penelitian akademik maupun tulisan populer.
Latar Belakang Pendidikan
Pria 35 tahun itu memulai pendidikannya di Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, dan meraih gelar Sarjana Pendidikan pada 2011.
Ia kemudian melanjutkan studi magister di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dengan tesis yang membahas citra perempuan dalam sastra Indonesia.
Setelah lulus, ia mengawali kariernya sebagai asisten dosen di UHO pada 2011, sebelum menjadi dosen tetap pada 2015 di universitas yang sama.
Pada 2020, ia menyebrangi lautan dan bergabung dengan Universitas Negeri Gorontalo sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra dan Budaya.
Karya Tulis
Selain mengajar, Gusman juga aktif sebagai editor di Alinea Indonesia, reviewer jurnal Ideas, dan editor untuk berbagai buku sastra populer.
Selama kariernya, Gusman telah menghasilkan lebih dari 40 karya dalam bentuk buku, artikel ilmiah, dan tulisan non-ilmiah.
Di antaranya, 20 karya non-ilmiah, termasuk buku, esai, dan artikel populer, 10 artikel ilmiah, dengan beberapa di antaranya terbit di jurnal internasional terindeks Scopus.
Salah satu karya akademiknya yang terbaru, diterbitkan di jurnal internasional Scopus pada 2024, adalah artikel berjudul “Why Are Women Compared to Chicken Cages?’: Women’s Image in the Short Story ‘Ketika Saatnya”.
Artikel ini membahas representasi perempuan dalam sastra Indonesia modern, dengan perspektif yang segar dan mendalam.
Gusman juga menggagas penelitian lain yang relevan dengan isu kekinian, seperti “Pengaruh Komunikasi Persuasif dan Pola Konsumsi Skincare terhadap Penerapan Sustainable Beauty”, yang terbit di Journal of Communication and Da’wah PAWARTA.
Di bidang sastra, salah satu karyanya yang menarik perhatian adalah buku biografi berjudul ‘Saya Perempuan, Saya Berjuang: Sehimpun Kisah Merlan Uloli’.
Biografi ini mengisahkan perjalanan hidup Merlan Uloli, tokoh perempuan inspiratif yang juga mencalonkan diri sebagai Bupati Bone Bolango pada Pilkada 2024.
Dalam berbagai karyanya, Gusman berusaha memberikan ruang bagi perempuan untuk mengekspresikan diri mereka di tengah budaya patriarki.
Baca juga: 2 Dosen Universitas Negeri Gorontalo yang Raih Gelar Guru Besar, Rektor Ucapkan Selamat
Salah satu esai yang yang mengangkat isu gender adalah “Dendam Lelaki, Toxic Masculinity, dan Kutukan Pentadu”, karya miliknya ini pernah dipresentasikannya di seminar internasional.
Dengan terus menggali isu gender dalam kebudayaan, ia berharap dapat membuka ruang bagi perempuan untuk lebih bebas berekspresi dan mendapatkan pengakuan yang setara.
“Perempuan harus memiliki ruang seluas-luasnya untuk mengekspresikan diri mereka di tengah kebudayaan yang sering kali menempatkan mereka sebagai objek. Melalui tulisan-tulisan ini, saya ingin memberikan suara kepada perempuan yang selama ini terbungkam,” tegas Gusman.
Selain karya akademik, Gusman juga terlibat sebagai editor sejumlah buku sastra populer, seperti Nabastala dan Kisahnya (2023) dan Setelah Luka dan Kisah Burung Surga (2023).
Ia juga telah mempresentasikan lebih dari 15 makalah dalam seminar nasional dan internasional yang diikutinya.
Gusman percaya bahwa sastra dan penelitian bukan hanya alat untuk membangun pengetahuan, tetapi juga sarana untuk membawa perubahan sosial.
Komitmennya terhadap isu gender dan budaya membuatnya menjadi salah satu akademisi inspiratif, tidak hanya di Gorontalo tetapi juga di tingkat nasional. (*/Tika)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.