Berita UMKM
Cerita Sejoli Remaja Gorontalo Tekuni Bisnis Pisang Goreng hingga Raup Omzet Rp3 Juta per Bulan
Amelia Nurstina Putong dan Fakhri Pratama Djibran mengolah pisang goreng, menjadi sajian modern yang diberi nama ‘Bantop’.
Penulis: Nur Ainsyah Habibie | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Amelia-Nurstina-sibuk-mengupas-pisang-untuk-dijadikan-banana-topping.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Amelia Nurstina Putong dan Fakhri Pratama Djibran mengolah pisang goreng, menjadi sajian modern yang diberi nama ‘Bantop’.
Nama Bantop ini diambil dari singkatan Banana Topping.
“Nama Bantop itu singkatan dari banana topping, karena kan ini pisang goreng terus dikasih topping jadi namanya banana topping dan disingkat menjadi Bantop,” ujar Amelia kepada TribunGorontalo.com, Minggu (1/12/24).
Usaha pisang goreng dirintis oleh sejoli ini sejak awal Ramadhan 2023.
Ide bisnis ini, menurut Amelia, berawal dari dorongan keluarga serta inspirasi usaha yang mereka dapatkan dari media sosial seperti YouTube dan TikTok.
Modal awal mereka sekitar Rp5 juta, yang sebagian berasal dari bantuan orang tua dan sebagian lagi dari dana beasiswa yang dikelola Amel secara bijak, Amelia dan Fakhri memulai usaha kecil mereka.
“Sebagian modal dari orangtua, sebagian lagi itu dari beasiswa yang saya kelola dengan baik,” tutur Amel.
Dari modal awal Rp5 juta, kini usaha Bantop mereka menghasilkan omzet sekitar Rp150 ribu hingga Rp300 ribu per hari. Dalam sebulan, omzet usaha ini diperkirakan mencapai Rp3 juta.
Adapun usaha ini beroperasi setiap hari mulai pukul 17.00 Wita hingga 01.00 dini hari.
Berbagai pilihan topping seperti cokelat, keju, hingga, tiramissu, memberikan nilai tambah yang membuat Bantop ini digemari.
Dengan harga Rp 12ribu hingga Rp 20ribu, produk sepasang sejoli itu menbuat pembeli tidak harus merogoh kocek dalam.
Baca juga: Emak-emak Ini Harapkan Pemimpin Kota Gorontalo Beri Bantuan Modal Usaha dan Pelatihan UMKM
Amel menjelaskan pisang dibeli dari pasar tradisional, sementara bahan pelengkap lainnya didapatkan dari sejumlah supermarket di Kota Gorontalo.
Mereka memastikan bahan-bahan yang digunakan selalu segar dan aman untuk menjaga kualitas rasa.
Oleh karena itu, lapak milik keduanya ini tampak selalu ramai dikunjungi.
Kendati sudah ramai, pasangan remaja ini masih menyebarkan pamflet di media sosial. Mereka terkadang menawarkan produk secara langsung kepada siapa saja yang lewat di lapaknya.