Pilkada Gorontalo

Hadiri Kampanye Paslon Bupati, Nelayan Gorontalo Ini Diminta Kembalikan Mesin Bantuan Pemerintah

Kasus ini kini menjadi sorotan publik, menyoroti perlunya transparansi dalam distribusi bantuan pemerintah serta pengawasan agar bantuan tidak disalah

Penulis: Arianto Panambang | Editor: Wawan Akuba
FOTO: Arianto Panambang, TribunGorontalo.com
Seorang warga di Kabila Bone Gorontalo mengaku mendapat ancaman pengembalian bantuan mesin kapal. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Bone BolangoIsmail Harun, seorang nelayan asal Desa Huangobotu gelisah lantaran mesin bantuan yang ia miliki, akan ditarik.

Sebagai informasi, Ismail Harus adalah nelayan di wilayah Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.

Ia mengungkapkan adanya ancaman yang diterimanya terkait bantuan mesin kapal nelayan jenis DT15A dari Dinas Perikanan Provinsi Gorontalo.

Ancaman itu muncul setelah ia menghadiri sebuah kampanye politik. 

Ancaman tersebut, menurut Ismail, disampaikan oleh SP, seorang mantan pejabat di Kabupaten Bone Bolango, melalui perantara. 

SP merasa keberatan dengan kehadiran Ismail di kampanye salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati Bone Bolango.

Mesin kapal DT15A yang diterima Ismail pada awal tahun 2024 merupakan bagian dari program bantuan pemerintah Provinsi Gorontalo untuk meningkatkan produktivitas nelayan.

Bantuan ini diberikan tanpa syarat khusus terkait preferensi politik penerima.

Namun, setelah menghadiri kampanye yang digelar di Lapangan Likada, Kabila, Ismail menerima pesan yang mengejutkan.

“Saya terima pesan dari seseorang. Ia meminta agar bantuan mesin kapal itu diangkat karena saya terlihat hadir di kampanye,” ungkap Ismail kepada TribunGorontalo.com, Senin (25/11/2024).

Ismail menjelaskan, hingga kini tidak ada perintah resmi dari Dinas Perikanan Provinsi Gorontalo untuk mengembalikan bantuan tersebut.

Sebaliknya, dinas menyarankan agar bantuan digunakan sebaik-baiknya demi mendukung mata pencaharian.

“Sampai sekarang tidak ada arahan dari dinas untuk mengembalikan. Mereka hanya berpesan agar bantuan itu dimanfaatkan dengan baik. Kalau pun harus dikembalikan, saya siap mengantar langsung,” tambah Ismail.

Mesin DT15A yang diterimanya juga belum sempat digunakan karena kapal nelayan yang akan dipasang mesin tersebut masih dalam proses pengerjaan.

Kasus ini memunculkan kekhawatiran soal politisasi bantuan pemerintah yang seharusnya bersifat netral.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved