Kasus Malaria Gorontalo

10 Kasus Malaria di Wilayah Bone Bolango Gorontalo hingga November 2024, Penularan dari Luar Daerah

“Meski masih ada kasus impor, kami bersyukur karena tidak ada kematian akibat malaria, dan seluruh pasien berhasil sembuh,” ujar Eliyzabeth.

Penulis: Faisal Husuna | Editor: Wawan Akuba
Getty
ILUSTRASI -- malaria di Bone Bolango, Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Bone Bolango — Dinas Kesehatan (Dinkes) Bone Bolango mencatat adanya 10 kasus malaria di wilayah itu setidaknya hingga November 2024. 

Jika angka ini bertahan hingga akhir tahun, artinya ada penurunan jumlah dibandingkan tahun 2023 kemarin yang mencapai 12 kasus. 

Menurut Eliyzabeth Nangoy, sepanjang tahun ini, terdapat 10 kasus yang seluruhnya diklasifikasikan sebagai kasus impor.

Anggota Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bone Bolango ini menjelaskan kasus ini berasal dari luar daerah. 

“Meski masih ada kasus impor, kami bersyukur karena tidak ada kematian akibat malaria, dan seluruh pasien berhasil sembuh,” ujar Eliyzabeth.

Dinas Kesehatan Bone Bolango rutin memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama mereka yang sering bepergian ke daerah endemis malaria.

Edukasi ini mencakup pengetahuan tentang gejala khas malaria, yaitu demam panas, sakit kepala, dan demam menggigil, yang dikenal sebagai trias malaria.

“Pencegahan dimulai dari kesadaran masyarakat. Oleh karena itu, kami terus menyosialisasikan pentingnya mengenali gejala malaria dan langkah pencegahan lainnya,” jelasnya.

Dalam upaya menyebarkan informasi, puskesmas setempat bekerja sama dengan petugas promosi kesehatan (Promkes) untuk melakukan penyuluhan.

Program ini melibatkan masyarakat di daerah perbatasan, kawasan tambang, dan lokasi strategis lainnya yang berisiko menjadi jalur penyebaran penyakit.

Sebagai langkah preventif, Dinas Kesehatan juga rutin melakukan skrining malaria. Kegiatan ini digelar setiap tahun bagi mahasiswa baru di Kampus 4 Universitas Negeri Gorontalo Bone Bolango.

Selain itu, skrining berkala dilakukan setiap tiga hingga enam bulan di daerah perbatasan serta pintu masuk tambang.

“Kami juga terus mengimbau masyarakat untuk memberantas sarang nyamuk dan segera melakukan pemeriksaan ke puskesmas jika mengalami gejala malaria,” tambah Eliyzabeth.

Langkah-langkah sederhana seperti mengenakan pakaian panjang, menggunakan lotion anti-nyamuk, dan tidur dengan kelambu juga terus disosialisasikan sebagai bagian dari pencegahan.

Terutama, hal ini ditekankan bagi warga yang akan bepergian atau baru kembali dari daerah dengan tingkat kasus malaria yang tinggi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved