Polisi Aniaya Nakes
Rahmat Duhe Polisi Terdakwa Penganiayaan Nakes, Rupanya Mantan Paskibraka Nasional Gorontalo 2016
Saat dicek TribunGorontalo.com, Rahmat Duhe rupanya pada 2016 mewakili Gorontalo sebagai Paskibraka Nasional bersama Febiola Rauf.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Rahmat-Duhe__Paskibraka.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Rahmat Duhe, anggota Polri terpidana kasus penganiayaan, rupanya adalah mantan Paskibraka Nasional.
Tercatat, Rahmat Duhe adalah anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional tahun 2016.
Saat dicek TribunGorontalo.com, Rahmat Duhe rupanya pada 2016 mewakili Gorontalo sebagai Paskibraka Nasional bersama Febiola Rauf.
Nama Rahmat Duhe dan Febiola Rauf tercatat sebagai perwakilan Gorontalo Paskibraka Nasional bersama 66 siswa dari berbagai provinsi lainnya.
Namun, hanya gara-gara urusan wanita, ia pun harus berurusan dengan hukum bahkan hingga divonis penjara satu tahun.
Bukan hanya mantan Paskibraka Nasional, Rahmat Duhe juga rupanya peraih juara bulu tangkis level kabupaten.
Selain itu, Rahmat Duhe rupanya diketahui mahir memainkan alat musik, serta merupakan sosok humoris.
Divonis Satu Tahun
Dikutip dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Tilamuta, Kabupaten Boalemo, perkara Rahmat Duhe tercatat dengan nomor 43/Pid.B/2024/PN Tmt.
Rahmat Duhe harus menjalani 9 kali persidangan sebelum akhirnya ia dinyatakan bersalah oleh majelis hakim.
Persidangan pertama digelar pada 26 Agustus 2024 dengan agenda pembacaan dakwaan. Namun ditunda alasan pemeriksaan saksi-saksi.
Sementara sidang terakhir digelar pada Rabu, 16 Oktober 2024 dengan pembacaan putusan.
Berdasarkan bukti-bukti dan saksi yang dihadirkan, Rahmat Duhe dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “penganiayaan yang mengakibatkan luka berat” sebagaimana didakwakan dalam dakwaan primer.
Karen itu hakim menjatuhkan terhadap Rahmat Duhe dengan pidana penjara selama satu tahun penjara.
Namun, hakim menetapkan masa penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.
Kronologi Kasus
Sebelumnya, Tenaga kesehatan (nakes) Puskesmas Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, dianiaya seorang personel polisi.
Nakes bertubuh kekar bernama Taufik Nur itu tampak babak belur.
Wajahnya berdarah, serta tampak hidungnya seperti bengkok. Diduga ia mengalami patah tulang hidung.
Adapun penganiayaan ini terjadi di puskesmas tempat nakes itu bekerja, Jl Trans Sulawesi, Molombulahe, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo pada Rabu (17/4/2024).
Saat dikonfirmasi, Kepala Puskesmas Paguyaman Zulha J.A Pakai membenarkan kejadian pada Rabu (17/4/2024) malam itu.
“Iya benar ada penganiayaan terhadap nakes Paguyaman,” ungkapannya, Kamis (18/4/2024).
Kata Zulha, ia tak berada di lokasi saat kejadian itu. Namun dari informasi yang ia tahu, kejadian itu sekitar pukul 19.00 Wita.
“Saat itu saya baru selesai salat Magrib. Lagi istirahat dan cek-cek HP, ternyata ada ribut-ribut terkait penganiayaan itu,” ungkapnya via telepon.
Zulha tidak mengenal dekat pelaku penganiayaan tersebut, namun ia membenarkan jika ia seorang polisi berinisial D alias Rahmat Dehu.
Sementara korban bernama Taufik Nur dan merupakan nakes Gizi.
Belum diketahui persis apa masalahnya, namun menurut Zulha gara-gara wanita.
Kapus yang sudah bertugas sejak 2021 di Puskesmas Paguyaman itu membeberkan jika masalah penganiayaan itu menyangkut wanita.
Sebagai pimpinan di puskes tersebut, Zulha tak terima dan melapor ke Polsek Paguyaman.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.