Human Interest Story
Kisman Ruhban Bertahan jadi Buruh Batu Kapur Meski Pendapatan Menurun
Ia sudah menekuni ini sejak usia belia. Kepada TribunGorontalo.com, Kisman bercerita memulai kariernya di bidang ini sejak tahun 1990-an.
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Wawan Akuba
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Kisman Ruhban menjalani hari-harinya sebagai pekerja batu kapur di Desa Buliide, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo.
Ia sudah menekuni ini sejak usia belia. Kepada TribunGorontalo.com, Kisman bercerita memulai kariernya di bidang ini sejak tahun 1990-an.
Meski tak ingat persis berapa usianya waktu itu, namun satu hal yang pasti, pekerjaan ini telah menjadi satu-satunya penopang ekonomi bagi keluarganya.
“Saya sudah bekerja mengolah batu kapur sejak sekitar tahun 1990-an. Gajinya memang kecil, tapi ini pekerjaan saya,” tuturnya, Selasa (05/11/2024).
Meski upah yang ia terima hanya Rp 600 per sak kapur, Kisman tak pernah mengeluh.
Dari pekerjaan inilah, ia berhasil membiayai kedua anaknya hingga lulus sekolah menengah atas.
Awal bekerja, Kisman merasakan bagaimana prospek batu kapur cukup menjanjikan bagi warga setempat.
Dalam sehari, ia mampu menghasilkan hingga 150 sak kapur, masing-masing dengan berat sekitar 12 kilogram.
Kala itu, harga per sak bisa mencapai Rp 9.000, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Namun, pandemi COVID-19 yang melanda pada 2022 mengubah segalanya.
Harga batu kapur menjadi tak menentu, dan produksi mulai tersendat.
Kondisi ini semakin menyulitkan Kisman yang kini berusia 45 tahun, dengan tenaga yang tak lagi sekuat masa mudanya.
Keriput di kulitnya menjadi saksi betapa berat pekerjaan ini, apalagi semua proses dikerjakan secara manual tanpa bantuan teknologi.
“Saya harus memikul kayu bakar dari bawah bukit ke atas tungku, mengisinya sampai penuh. Itu pekerjaan paling berat,” ujarnya sambil tertawa, seolah menertawakan kerasnya hidup yang ia jalani.
Kondisi produksi saat ini juga tak lagi seperti dulu. Kini, setiap sak kapur yang dihasilkan hanya berisi antara 7 hingga 12 kilogram, dengan harga jual turun menjadi Rp 2.500 hingga Rp 5.000 per sak.
Permintaan kapur pun kini hanya datang dari pertambangan emas di wilayah sekitar Sulawesi, terutama dari Sulawesi Tengah dan Utara.
Meski begitu, pesanan kerap datang tak menentu, mengakibatkan stok kapur menumpuk tanpa kepastian pembeli.
“Sekarang pesanan datangnya jarang-jarang. Jadi, produksi seringkali menumpuk,” ungkapnya sambil menghela napas.(Faisal/*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kisman-Ruhban-buruh-batu-kapur-di-Desa-Buliide.jpg)