Kebakaran Rumah Gorontalo
Sosok Yeti Mahmud Korban Kebakaran Rumah di Siendeng Gorontalo, Pekerja Keras dan Baik Hati
Kepergian Yeti Mahmud dalam peristiwa kebakaran rumah di Kelurahan Siendeng, meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
- Yeti Mahmud dikenal sebagai pekerja keras, penurut, penuh kasih sayang, dan selalu membantu orang lain
- Hidup mandiri setelah ditinggal suami, tanpa anak, namun tetap mengutamakan keluarga
- Kebakaran di Kelurahan Siendeng, Kota Gorontalo, Jumat (14/2/2026) menelan korban jiwa Yeti Mahmud
- Kepergian Yeti meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar
TRIBUNGORONTALO.COM – Kepergian Yeti Mahmud dalam peristiwa kebakaran rumah di Kelurahan Siendeng, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo, meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya.
Yeti dikenal sebagai sosok pekerja keras yang selalu ringan tangan membantu orang lain. Hal ini disampaikan oleh Warida Lanti, tante Yeti, saat diwawancarai Tribun Gorontalo.
Menurut Warida, almarhumah bukan tipe orang yang suka duduk berlama-lama tanpa tujuan. Ia lebih memilih mengisi waktunya dengan kegiatan bermanfaat.
“Dia jarang duduk ngerumpi. Kalau ada orang minta tolong, dia pasti datang. Tidak pernah dengar dia bermasalah dengan siapa pun,” kata Warida.
Kebaikan hati Yeti juga dirasakan oleh keluarga terdekat. Yeni Mahmud, kakak korban, menuturkan bahwa adiknya adalah pribadi penurut dan penuh kasih sayang.
“Dia itu tidak pernah membantah. Penurut, dan sangat sayang sama keponakan-keponakannya,” ungkap Yeni dengan mata berkaca-kaca.
Yeti merupakan anak ke-8 dalam keluarga besar Mahmud. Sejak ditinggal suaminya, ia berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidup.
Meski hidup sendiri dan tidak memiliki anak, Yeti tetap berusaha membantu keluarga sebisanya. Ia dikenal sebagai sosok yang selalu mengutamakan kepentingan orang lain.
“Dia selalu bekerja sendiri untuk hidupnya, sekaligus membantu kami keluarga,” jelas Yeni.
Kehidupan sehari-hari Yeti penuh dengan aktivitas. Ia tidak pernah terlihat bermalas-malasan. Bahkan sebelum kejadian, ia masih sempat membantu keluarga membuat kue untuk persiapan Lebaran.
Delvi Ladjidji, anggota keluarga lain, mengingat bahwa Yeti masih beraktivitas normal di pagi hari sebelum kebakaran.
“Pagi itu dia sempat mengantar anak saya ke sekolah. Kami juga sempat membeli makanan bersama dan singgah di tempat saya mengajar,” tutur Delvi.
Delvi tidak menyangka bahwa pertemuan tersebut menjadi yang terakhir kalinya bersama almarhumah.
“Tidak pernah terbayang kalau itu adalah hari terakhir kami bertemu,” ucapnya lirih.