Sains Populer
Rahasia Ketahanan Beton Romawi Bertahan 2 Ribu Tahun, Ternyata Pakai Teknologi Hot Mixing
Salah satu struktur Romawi yang masih berdiri kokoh hingga saat ini adalah Pantheon di Roma, yang dibangun hampir 2.000 tahun dan memegang rekor
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Outside-of-the-Pantheon-in-Rome.jpg)
Selain itu, keberadaan gumpalan kapur dalam beton Romawi membuatnya memiliki kemampuan “self-healing” atau penyembuhan mandiri.
Ketika beton mengalami retak, retakan tersebut akan bergerak menuju gumpalan kapur yang lebih reaktif.
Air yang merembes ke retakan bereaksi dengan kapur, membentuk kalsium karbonat yang mengisi dan memperkuat kembali beton, mencegah retakan menyebar lebih jauh.
Fenomena ini terlihat pada situs makam Caecilia Metella, di mana retakan beton telah terisi dengan kalsit, bahan penyembuh alami.
Dalam uji coba, tim MIT membuat beton pozolanik sesuai resep kuno dengan menambahkan kapur mentah dan melakukan pengujian retak.
Hasilnya, beton tersebut dapat “menyembuhkan” retaknya hanya dalam dua minggu, sementara beton kontrol tanpa kapur mentah tetap retak.
Tim ini kini sedang mengembangkan dan mengkomersialkan beton berbahan dasar teknik Romawi kuno sebagai alternatif beton modern yang lebih ramah lingkungan.
Teknologi ini berpotensi memperpanjang umur beton dan meningkatkan daya tahan konstruksi 3D-printing. (*)