Sains Populer
Rahasia Ketahanan Beton Romawi Bertahan 2 Ribu Tahun, Ternyata Pakai Teknologi Hot Mixing
Salah satu struktur Romawi yang masih berdiri kokoh hingga saat ini adalah Pantheon di Roma, yang dibangun hampir 2.000 tahun dan memegang rekor
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Outside-of-the-Pantheon-in-Rome.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Orang Romawi kuno dikenal sebagai ahli dalam bidang konstruksi dan teknik, dengan salah satu karya mereka yang paling ikonis adalah akuaduk.
Keajaiban teknik yang tetap bertahan hingga kini ini memanfaatkan bahan konstruksi unik bernama beton pozolanik.
Ini adalah sebuah campuran beton luar biasa tahan lama yang memberikan kekuatan luar biasa pada bangunan Romawi.
Salah satu struktur Romawi yang masih berdiri kokoh hingga saat ini adalah Pantheon di Roma, yang dibangun hampir 2.000 tahun lalu dan memegang rekor sebagai kubah beton tak bertulang terbesar di dunia.
Pantheon ini menggunakan beton berbahan dasar pozzolana, campuran abu vulkanik yang dinamai sesuai kota Pozzuoli di Italia, yang berpadu dengan kapur dan menghasilkan beton kuat saat dicampur dengan air.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa rahasia ketahanan beton Romawi tidak hanya terletak pada bahannya, tetapi juga teknik pencampurannya.
Pada tahun 2023, tim peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan bahwa beton Romawi dibuat dengan teknik khusus yang disebut “hot mixing” – proses pencampuran kapur mentah langsung dengan pozzolana dan air pada suhu tinggi.
Teknik ini menghasilkan gumpalan kapur kecil di dalam beton, yang selama ini dianggap sebagai kesalahan dalam pencampuran, namun ternyata memiliki peran penting dalam kekuatan beton Romawi.
Menurut ilmuwan material MIT, Admir Masic, kehadiran gumpalan kapur ini bukan karena rendahnya kualitas pencampuran.
“Jika orang Romawi begitu teliti dalam membuat bahan konstruksi luar biasa ini, mengapa mereka tidak memperhatikan kualitas pencampuran? Pasti ada sesuatu di baliknya,” kata Masic.
Masic bersama tim peneliti MIT yang dipimpin oleh insinyur sipil Linda Seymour, mempelajari sampel beton berusia 2.000 tahun dari situs arkeologi di Privernum, Italia.
Dengan menggunakan mikroskop elektron, spektroskopi x-ray, dan metode analisis lainnya, mereka menemukan bahwa beton ini tidak hanya mengandung kapur slake (kapur mati) seperti teori yang sudah lama dipercaya, tetapi juga kapur mentah yang dicampur langsung dengan bahan lainnya.
Teknik "hot mixing" menghasilkan dua manfaat utama, menurut Masic.
Pertama, suhu tinggi memungkinkan reaksi kimia yang tidak bisa terjadi jika hanya menggunakan kapur mati, menghasilkan senyawa yang sangat tahan lama.
Kedua, suhu tinggi mempercepat proses pengeringan beton sehingga waktu pengerasan menjadi lebih singkat, yang sangat menguntungkan dalam konstruksi.