Human Interest Story
Perjuangan Giat Liputo, Anak Nelayan Gorontalo, dari Pulau Kecil hingga Raih Segudang Prestasi
Pria yang pada 2024 ini berusia 2024 tahun, adalah anak seorang nelayan. Meski begitu, ia membuktikan bahwa mimpi besar bisa terwujud meski berasal da
Penulis: Syarifudin Madina | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Cerita-Moh-Giat-Liputo-Anak-seorang-Nelayan-menceritakan-Hidup-ditanah-Perantauan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Dari sebuah desa kecil di pesisir Pulau Ponelo lahir seorang pemuda tangguh bernama Moh Giat Liputo.
Pria yang pada 2024 ini berusia 2024 tahun, adalah anak seorang nelayan. Meski begitu, ia membuktikan bahwa mimpi besar bisa terwujud meski berasal dari tempat terpencil di Gorontalo Utara (Gorut).
Kini, ia bergelimang prestasi yang membawa harum nama kampusnya, Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Perjalanan Giat untuk melanjutkan pendidikan bukanlah tanpa rintangan. Untuk meraih mimpi, ia harus meninggalkan desanya dan merantau ke Kota Gorontalo, yang jaraknya memakan waktu berjam-jam.
Baca juga: 4 Mega Proyek Pembangunan Infrastruktur di Gorontalo Kenang-kenangan Presiden Jokowi
Transportasi menuju kota ini pun tidak mudah, ia harus menyeberangi lautan menggunakan perahu sebelum melanjutkan perjalanan dengan mobil rental.
Namun, tantangan itu tak menyurutkan semangat Giat untuk mengejar pendidikan.
Pada tahun 2020, Giat resmi menjadi mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo, mengambil jurusan Bahasa dan Sastra.
Ia tinggal bersama kakaknya di sebuah kos di Jalan Adam Zakaria, Kota Gorontalo.
Meski begitu, kondisi ekonomi keluarganya yang terbatas sempat membuatnya merasa menjadi beban bagi sang kakak.
Baca juga: Ramalan 5 Zodiak Paling Beruntung Besok Kamis 17 Oktober 2024, Ada yang Bakal Mendadak Kaya
Pernah suatu kali, Giat diminta mencari tempat tinggal lain untuk menghemat pengeluaran.
“Saya sempat menangis waktu itu, merasa menjadi beban kakak. Saya pun langsung mencari kos lain,” kenang Giat.
Namun, masa-masa sulit itu justru menguatkannya. Ia bangkit dari keterpurukan dan kembali fokus menjalani kehidupan kampus.
Meski tanpa kendaraan, Giat tak pernah kehilangan semangat. Setiap hari, ia nebeng teman atau bahkan berjalan kaki sejauh satu kilometer menuju kampus.
“Kendaraan memang jadi tantangan, tapi saya tidak mau itu membatasi saya. Saya tetap aktif berorganisasi dan bersosialisasi,” ujarnya tegas.
Semangatnya terbukti dengan aktifnya Giat di berbagai organisasi kampus.