Kamis, 5 Maret 2026

Human Interest Story

Modal dari Gaji Honorer, Rahman Habibie Rintis Bengkel di Kota Gorontalo

Rahman Habibie (26) memulai usahanya dengan mendirikan sebuah bengkel pada tahun 2019. 

Tayang:
Penulis: Nur Ainsyah Habibie | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Modal dari Gaji Honorer, Rahman Habibie Rintis Bengkel di Kota Gorontalo
TribunGorontalo.com/Nur Ainsyah Habibie
Rahman Habibie tengah memperbaiki sepeda motor warga 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Rahman Habibie (26) memulai usahanya dengan mendirikan sebuah bengkel pada tahun 2019. 

Meski sempat bangkrut, ia berhasil bangkit dari keterpurukan.

Modal awal yang ia gunakan berasal dari gajinya sebagai pegawai honorer di Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Gorontalo, pekerjaan yang ia tekuni untuk menghidupi keluarganya. 

“Saya pakai gaji honor untuk menyicil beli perlengkapan bengkel,” ujar Rahman kepada TribunGorontalo.com, Rabu (16/10/24).

Dari gaji sekira Rp1 juta, Rahman berusaha keras untuk menyisihkan sebagian dan menjadikannya modal membuka bengkel.

Awalnya, usaha bengkel ini berjalan baik. Rahman tekun melayani pelanggan.

Ia pun mulai mendapatkan penghasilan tambahan yang cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. 

Namun, tidak lama setelah itu, cobaan datang. 

Kondisi ekonomi yang tak menentu, ditambah dengan persaingan yang ketat, membuat pendapatan usahanya perlahan-lahan merosot. 

Pelanggan mulai berkurang, sementara biaya operasional bengkel tetap tinggi, makin membuat Rahman tidak bersemangat dengan usaha yang ia rintis susah payah.

“Pelanggan berkurang, harga alat-alat bengkel makin tinggi jadi semangat saya untuk melanjutkan usaha saat itu hilang,” ungkapnya. 

Baca juga: GORONTALO TERPOPULER: Tonny Uloli-Marten Taha Hadiri Festival Balon Udara - Cerita Penjual Es Cendol

Hal ini akhirnya membuat Rahman harus mengambil keputusan berat dengan menutup bengkelnya.

Dalam situasi yang sulit itu, Rahman terpaksa menjual berbagai bahan dan perlengkapan bengkel yang sebelumnya ia miliki, seperti oli, ban, kompresor, dan berbagai kebutuhan lainnya. 

Dari keseluruhan isi bengkelnya, hanya alat-alat dasar yang tersisa, sebuah simbol dari harapannya yang belum sepenuhnya hilang. 

Meski ia sudah tidak lagi menjalankan usaha, alat-alat tersebut tetap ia simpan, seolah menunggu waktu yang tepat untuk kembali digunakan.

Selama masa-masa sulit itu, Rahman merasa terpukul. 

Kehilangan usahanya yang sudah ia bangun dengan susah payah membuatnya hampir menyerah. 

Namun, di tengah keputusasaannya, datang dukungan moral yang sangat berarti dari sang ayah, yang saat itu tengah sakit berat.

Meski kondisi sang ayah sedang tidak baik-baik saja, kata-kata penyemangat darinya membangkitkan semangat Rahman. 

Ayahnya mengingatkan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia, dan meminta Rahman untuk mencoba bangkit kembali dan membuka usaha bengkel tersebut.

“Papa bilang tidak ada perjuangan yang sia-sia kalau kita bersungguh-sungguh,” ujar Rahman mengenang kembali nasihat Ayahnya.

Dorongan dari sang ayah itu menjadi titik balik bagi Rahman. 

Dengan tekad yang lebih kuat, ia memutuskan untuk tidak menyerah. 

Rahman mulai menabung lagi dari gajinya sebagai pegawai honorer, sedikit demi sedikit, demi mengumpulkan modal untuk membuka kembali bengkelnya. 

Meski jumlahnya terbatas, tabungan tersebut cukup baginya untuk membeli beberapa perlengkapan bengkel yang utama. 

Dengan penuh tekad, Rahman memulai kembali dari awal. 

Bengkel Rahman kini memang masih sederhana, jauh dari kata mewah atau besar.

Namun, kesederhanaan itu tidak menghalangi semangatnya untuk bekerja keras. 

Setiap hari, setelah selesai dengan tanggungjawabnya sebagai pegawai honorer atau ketika sedang libur, Rahman membuka bengkelnya. 

Ia mengerjakan semua pekerjaan seorang diri, mulai dari melayani pelanggan, memperbaiki kendaraan, hingga merawat perlengkapan bengkelnya. 

Rahman memilih untuk tidak memperkerjakan orang lain demi menghemat pengeluaran, sehingga keuntungan yang didapat bisa sepenuhnya ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Saya tidak memperkerjakan orang lain, semuanya saya kerjakan sendiri untuk meminimalisir pengeluaran,” ujarnya.

Meskipun bekerja tanpa bantuan orang lain di bengkel, Rahman tidak pernah mengeluh. 

Justru, ia merasa bangga karena dengan usaha kerasnya, ia mampu menghidupi istri dan dua anaknya. 

Bengkel tersebut telah menjadi sumber penghidupan utama bagi keluarganya.

“Alhamdulilah penghasilan yang didapat dari bengkel ini cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” tutur Rahman.

Ia juga merasa bersyukur karena bisa memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya.

Kini, bengkel yang ia jalankan menjadi bukti bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah pelajaran berharga yang bisa membawa seseorang menuju kesuksesan. 

Rahman berharap, usahanya bisa terus berkembang dan dapat mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern.

“Tidak muluk-muluk, hanya ingin bengkel ini terus berkembang dan bisa menyediakan alat-alat yang lebih modern,” pungkasnya.

Tak hanya itu saja, Rahman juga memiliki harapan besar terhadap pemerintah, terutama dalam mendukung usaha-usaha kecil seperti bengkelnya. 

Ia berharap pemerintah bisa membantu para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sedang berjuang mengembangkan usahanya. 

 

Ikuti Saluran WhatsApp TribunGorontalo untuk informasi dan berita menarik lainnya

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved