Human Interest Story

Modal dari Gaji Honorer, Rahman Habibie Rintis Bengkel di Kota Gorontalo

Rahman Habibie (26) memulai usahanya dengan mendirikan sebuah bengkel pada tahun 2019. 

Penulis: Nur Ainsyah Habibie | Editor: Fadri Kidjab
TribunGorontalo.com/Nur Ainsyah Habibie
Rahman Habibie tengah memperbaiki sepeda motor warga 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Rahman Habibie (26) memulai usahanya dengan mendirikan sebuah bengkel pada tahun 2019. 

Meski sempat bangkrut, ia berhasil bangkit dari keterpurukan.

Modal awal yang ia gunakan berasal dari gajinya sebagai pegawai honorer di Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Gorontalo, pekerjaan yang ia tekuni untuk menghidupi keluarganya. 

“Saya pakai gaji honor untuk menyicil beli perlengkapan bengkel,” ujar Rahman kepada TribunGorontalo.com, Rabu (16/10/24).

Dari gaji sekira Rp1 juta, Rahman berusaha keras untuk menyisihkan sebagian dan menjadikannya modal membuka bengkel.

Awalnya, usaha bengkel ini berjalan baik. Rahman tekun melayani pelanggan.

Ia pun mulai mendapatkan penghasilan tambahan yang cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. 

Namun, tidak lama setelah itu, cobaan datang. 

Kondisi ekonomi yang tak menentu, ditambah dengan persaingan yang ketat, membuat pendapatan usahanya perlahan-lahan merosot. 

Pelanggan mulai berkurang, sementara biaya operasional bengkel tetap tinggi, makin membuat Rahman tidak bersemangat dengan usaha yang ia rintis susah payah.

“Pelanggan berkurang, harga alat-alat bengkel makin tinggi jadi semangat saya untuk melanjutkan usaha saat itu hilang,” ungkapnya. 

Baca juga: GORONTALO TERPOPULER: Tonny Uloli-Marten Taha Hadiri Festival Balon Udara - Cerita Penjual Es Cendol

Hal ini akhirnya membuat Rahman harus mengambil keputusan berat dengan menutup bengkelnya.

Dalam situasi yang sulit itu, Rahman terpaksa menjual berbagai bahan dan perlengkapan bengkel yang sebelumnya ia miliki, seperti oli, ban, kompresor, dan berbagai kebutuhan lainnya. 

Dari keseluruhan isi bengkelnya, hanya alat-alat dasar yang tersisa, sebuah simbol dari harapannya yang belum sepenuhnya hilang. 

Meski ia sudah tidak lagi menjalankan usaha, alat-alat tersebut tetap ia simpan, seolah menunggu waktu yang tepat untuk kembali digunakan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved