Human Interest Story
Ijal Saleh, Petani Rumput Gajah di Gorontalo Ngaku Raup Belasan Juta Rupiah Setiap Produksi
Ijal Saleh petani rumput gajah di Desa Pilohayanga, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo meraup omzet belasan juta rupiah
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ijal-Saleh.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Telaga – Ijal Saleh petani rumput gajah di Desa Pilohayanga, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo meraup omzet belasan juta rupiah sekali produksi.
Rumput gajah merupakan salah satu tanaman pakan ternak untuk sapi dan kambing.
"Dalam satu pantango (ukuran lokal 50x50 meter), bisa Rp 5 juta, nah ini ada tiga pantango sehingga total Rp 15 juta," kata Ijal Saleh, Senin (14/10/2024).
Namun angka itu masih terbilang pendapatan kotor, sebab masih ada potongan upah kepada petani lain, biaya pupuk, serta perawatan.
Produksi panen dilakukan setiap dua bulan sekali, beberapa lahan bisa hanya satu bulan setengah, tergantung jenis rumput.
Harga jualnya pun fluktuatif, namun biasanya dijual Rp25 ribu per tiga ikat.
"Kalau mahal biasanya Rp 10 ribu satu ikat," bebernya.
Ia menyebut usaha rumput gajah sangat potensial, mengingat hasilnya akan digunakan untuk pakan ternak.
Sebelumnya para peternak sering bergantung pada tanaman jagung, namun perlahan mulai beralih ke rumput gajah.
Budidaya rumput gajah begitu mudah. Hanya saja perlu tenaga dan waktu ekstra ketika pertama kali membuka lahan tempat rumput gajah.
"Nanti kalau sudah hidup baru enak, karena setelah panen akan tumbuh lagi tunas baru," tukasnya.
Meski begitu, potensi tunas baru bisa hidup kembali ada teknik pemotongannya sendiri.
Tidak seperti rumput liar, rumput gajah harus rutin diberi pupuk.
"Biasanya ada NPK (Nitrogen, Pospor dan Kalium) sama urea," pungkasnya.
Rumput gajah setelah di potong hanya bisa bertahan selama dua hari sebelum dikonsumsi ternak.
Ikuti Saluran WhatsApp TribunGorontalo untuk informasi dan berita menarik lainnya