Senin, 16 Maret 2026

Human Interest Story

Cerita Helmiyanti Penjual Pop Ice di Gorontalo, Modal 200 Ribu Kini Omzet Belasan Juta per Bulan 

Helmiyanti (42), ibu rumah tangga  merupakan penjual Pop Ice terkenal di Gorontalo.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Nur Ainsyah Habibie | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Cerita Helmiyanti Penjual Pop Ice di Gorontalo, Modal 200 Ribu Kini Omzet Belasan Juta per Bulan 
TribunGorontalo.com/Tika Habibie
Mbak Ani saat melayani pembeli pop ice pada Rabu (2/10/2024) malam. 

Kehidupan Mbak Ani tidak seperti sekarang. Ia mengaku pernah mengalami kesulitan finansial.

“Dulu itu kami pernah, bahkan sering tidak makan seharian karena tidak punya uang,” katanya.

Hal tersebut membuat ia tergerak untuk mencari pemasukan dari tempat lain.

“Penghasilan suami belum cukup jadi saya berinisiatif kerja untuk membantu suami,” lanjutnya.

Sebelumnya Mba Ani sempat mencoba menjajakan kue keliling, kemudian beralih berjualan pop ice pada tahun 2017 silam.

Dalam berjualan pop ice, lapak Mba Ani masih sangat sederhana. Kala itu ia menggunakan satu buah meja yang diletakkan di pinggir jalan. 

Diakui Mba Ani, saat itu belum ada yang tertarik untuk beli jualannya.

Menurutnya, orang-orang lebih tertarik jika dagangan menggunakan gerobak. 

Pop Ice Tarantuo milik Mbak Ani di Jalan Sudirman Kota Gorontalo
Pop Ice Tarantuo milik Mbak Ani di Jalan Sudirman Kota Gorontalo (TribunGorontalo.com/Tika Habibie)

Baca juga: Cerita Andre Kurniawan, Penjual Roti Keliling Boalemo, Bermimpi Sukses di Gorontalo

Namun, Mbak Ani tetap sabar, tekun, percaya diri, dan konsisten merintis usahanya itu. 

Selang sebulan setelah Mba Ani berjualan, lapak Mba Ani sudah mulai ramai pembeli hingga akhirnya membeludak.

Kini ia sudah memiliki delapan booth pop ice. Usaha bernama 'Tarantuo' itu tersebar di Kota Gorontalo. 

Dari hasil usaha pop ice Tarantuo ini, Mbak Ani sudah berhasil memberi rumah, mobil, motor, hingga bangunan usaha burung walet.

Jatuh bangun dalam setiap usaha itu sudah pasti ada. Namun Mbak Ani menyikapi hal itu sebagai dorongan untuk semakin tekun dalam berusaha. 

“Titik terendah waktu covid, tidak bisa berjualan karena ada larangan dari pemerintah,” kata Mba Ani dengan raut wajah berkaca-kaca.

“Saya rugi besar-besaran, tidak bisa makan sampai akhirnya jual motor,” lanjutnya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved