Rabu, 4 Maret 2026

Miss Transqueen Gorontalo

Penolakan Kompetisi Miss Transqueen Gorontalo 2024, Masyarakat dan Tokoh Agama Bersuara Keras

Acara yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober 2024 ini menuai kontroversi, terutama dari kelompok-kelompok masyarakat dan tokoh agama.

Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Penolakan Kompetisi Miss Transqueen Gorontalo 2024, Masyarakat dan Tokoh Agama Bersuara Keras
MUIflyer
Miss Transqueen Gorontalo 2024 menuai polemik. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Rencana penyelenggaraan kompetisi Miss Transqueen Gorontalo 2024 memicu gelombang penolakan dari berbagai kalangan masyarakat.

Acara yang dijadwalkan berlangsung pada akhir September 2024 ini menuai kontroversi, terutama dari kelompok-kelompok masyarakat dan tokoh agama.

Pihak yang kontra menganggap bahwa kompetisi tersebut bertentangan dengan nilai-nilai budaya serta agama di Gorontalo.

Miss Transqueen adalah sebuah ajang kecantikan yang ditujukan bagi perempuan transgender yang bertujuan untuk merayakan keberagaman gender.

Juga kompetisi ini disebut untuk memperjuangkan hak-hak LGBTQ+, serta mengangkat kesadaran publik akan isu-isu yang dihadapi oleh komunitas transgender. 

Namun, di provinsi dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam ini, rencana tersebut menimbulkan reaksi keras dari masyarakat.

Warga yang merasa keberatan berpendapat bahwa kompetisi seperti Miss Transqueen tidak sesuai dengan norma-norma sosial dan keagamaan yang dianut oleh mayoritas penduduk Gorontalo.

Penolakan yang paling kuat datang dari berbagai organisasi keagamaan di Gorontalo. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gorontalo misalnya melakukan penolakan.

Bahkan, organisasi ulama ini mempublikasi flyer penolakan dengan menyertakan tangkapan layar terkait kegiatan tersebut. 

"Wajib tolak LGBT di Gorontalo," tulis MUI dalam publikasinya. 

Perang narasi soal LGBT ini paling getol di Facebook, Sutrisno Djunaidi bahkan menulis bahwa keberadaan LGBT sebetulnya telah jadi rahasia umum di Gorontalo.

Selama ini memang para kaum LGBT hidup berdampingan dengan masyarakat. Namun dengan kompetisi ini, justru menjadi  pemicu terciptanya ruang benci. 

"Padahal s enak hidup berdampingan tanpa 'mendiskreditkan kelompok tertentu', karena itu sudah pilihan "mereka". Justru adanya gerakan ini, ruang kalian untuk bisa di terima di lingkungan masyarakat semakin kecil bahkan peluang untuk di benci itu semakin BESAR," tulisnya. (*)

Belum diketahui apakah ini kompetisi ini adalah waralaba, namun dalam artikel Wikipedia menyebutkan bahwa kompetisi yang sama sudah digelar sejak 2004 di Thailand. 

Kompetisi untuk para transgender itu disebut Miss International Queen. Bahkan, kompetisi ini jadi terbesar dan paling prestisius wanita transgender dari seluruh dunia. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved