Human Interest Story
Cerita Mbak Hartini, Penjual Jamu di Kabupaten Gorontalo Sukses Biayai Anaknya jadi Polisi dan Bidan
Mbak Hartini (55), warga Desa Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo merupakan sosok penjual jamu.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Mbak-Hartini-tersenyum-kala-melayani-pembeli-jamu-miliknya.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Mbak Hartini (55), warga Desa Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo merupakan sosok penjual jamu.
Dari hasil usaha jualan jamu keliling, ia dapat menyekolahkan dua anaknya hingga sukses.
Satu anaknya lulus sebagai anggota kepolisian di Polres Kabupaten Gorontalo.
Sementara putri kandungnya seorang bidan yang bertugas di Gorontalo Utara.
Hartini berjualan jamu sekitar 36 tahun terakhir.
Suaminya, Sarwono (61) berjualan bakso di depan rumah mereka.
Hartini bersama suaminya sendiri berasal dari Pulau Jawa dan mereka merantau ke Gorontalo sejak tahun 1986.
"Awalnya ketemu suami di Jawa, habis nikah sebulan langsung transmigrasi ke Gorontalo tahun 86," ucapnya saat ditemui TribunGorontalo sedang di kawasan Kantor Bupati Gorontalo, Kamis (12/9/2024).
Hartini berjualan jamu setiap pagi. Ia mengunjungi rumah ke rumah dan dari kantor ke kantor.
Biasanya Hartini sering mengunjungi Kantor Bupati Gorontalo.
Senyum terpancar di wajahnya acap kali dirinya melayani pembeli.
Hartini cukup terkenal. Baru saja ia turun dari kendaraan, namanya langsung dipanggil pelanggan.
Baca juga: Cerita Rully Mohune, Pemuda Isimu Gorontalo Berjualan Kopi Pakai Motor Matic di Jalan GORR
Saat matahari mulai menyongsong ke barat, Hartini mulai mangkal di kawasan pasar Kabupaten Gorontalo.
"Berjualan di Gorontalo bagus, apalagi bahan-bahan jamu sudah ada di Gorontalo, kalau dulu kiriman dari Jawa semua," ujarnya.
Hartini berjualan mulai pukul 06.30 hingga 11.30 Wita. Lalu ia beristirahat.
Kemudian kembali berjualan pukul 15.30 hingga 18.00 Wita.
"Jualan di sini tidak ada kendala apa-apa, tidak ada kerusuhan," ucapnya.
Hartini menawarkan jamu dari beras kencur, temulawak, hingga kunyit.
Hartini mematok harga Rp3 ribu, Rp5 ribu, dan Rp.10 ribu.
Pendapatan sendiri naik turun, apabila ramai bisa mencapai sekitar Rp500 ribu sehari.
"Alhamdulillah saya lihat biasanya tidak terlalu sepi, normal-normal saja selama ini," tuturnya.
"Kalau hujan pagi, saya sudah tidak jualan lagi," tandasnya.
Ikuti Saluran WhatsApp TribunGorontalo untuk informasi dan berita menarik lainnya
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.