Rabu, 4 Maret 2026

Update Kabar Dunia

Musim Panas 2024 Catatkan Rekor Terpanas dalam Sejarah, Diprediksi Jadi Tahun Terhangat

Menurut layanan iklim Eropa, Copernicus, para ilmuwan semakin yakin bahwa tahun ini akan mengakhiri rekor sebagai tahun terhangat di Bumi.

Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Musim Panas 2024 Catatkan Rekor Terpanas dalam Sejarah, Diprediksi Jadi Tahun Terhangat
Getty
Seorang anak menggunakan kipas karena kepanasan. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Musim panas tahun 2024 resmi menjadi yang terpanas dalam sejarah.

Menurut layanan iklim Eropa, Copernicus, para ilmuwan semakin yakin bahwa tahun ini akan mengakhiri rekor sebagai tahun terhangat di Bumi.

Panas ekstrem yang melanda bumi selama musim panas 2024 diperparah oleh fenomena El Nino, yang mendorong kenaikan suhu dan memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.

Menurut data Copernicus, suhu rata-rata musim panas di belahan Bumi utara — yang mencakup bulan Juni, Juli, dan Agustus — mencapai 16,8 derajat Celcius, melebihi rekor sebelumnya pada tahun 2023 sebesar 0,03 derajat.

Catatan Copernicus ini sudah berlangsung sejak 1940, namun data dari Amerika, Inggris, dan Jepang, yang mulai mencatat suhu sejak pertengahan abad ke-19, menunjukkan bahwa dekade terakhir ini adalah yang terpanas dalam 120.000 tahun terakhir.

Agustus 2024 mencatatkan rekor yang sama dengan Agustus 2023 sebagai bulan terpanas secara global, dengan suhu rata-rata 16,8 derajat Celcius.

Kata Direktur Copernicus, Carlo Buontempo, meski Juli tidak memecahkan rekor, lonjakan suhu Juni 2024 yang jauh lebih panas dibandingkan Juni 2023 menjadikan keseluruhan musim panas kali ini sebagai yang terpanas.

“Kami melihat titik embun—salah satu cara mengukur kelembaban udara—mungkin mencapai rekor tertinggi atau mendekati rekor di banyak bagian dunia pada musim panas ini,” ujar Buontempo.

Awalnya, beberapa ilmuwan, termasuk Buontempo, masih ragu apakah tahun 2024 akan mengalahkan rekor tahun terpanas sebelumnya yang dicapai pada 2023.

Namun, setelah Agustus 2024 menyamai suhu Agustus tahun lalu, Buontempo kini cukup yakin bahwa tahun ini akan berakhir sebagai yang terhangat sepanjang sejarah.

“Untuk 2024 tidak menjadi tahun terpanas, kita harus melihat pendinginan signifikan di sisa bulan-bulan tahun ini, namun hal itu tampaknya tidak mungkin terjadi,” tambahnya.

Meskipun La Nina—yang dikenal sebagai fenomena pendinginan alami di sebagian wilayah Samudra Pasifik tengah—diperkirakan akan terjadi, sisa tahun ini mungkin tidak akan memecahkan rekor seperti sebagian besar tahun lalu dan setengah tahun ini.

Namun, menurut Buontempo, hal itu kemungkinan tidak akan cukup untuk mencegah 2024 mencatatkan rekor tahunan sebagai tahun terhangat.

Para ilmuwan iklim menekankan bahwa catatan suhu ini bukan sekadar angka, tetapi berimbas langsung pada kehidupan manusia.

Jennifer Francis, ilmuwan iklim dari Woodwell Climate Research Centre, menyoroti bahwa dunia sedang dibombardir oleh cuaca ekstrem, seperti gelombang panas, banjir, kebakaran hutan, dan angin kencang yang semakin mematikan.

“Seperti orang yang tinggal di zona perang dengan dentuman bom dan senapan yang terus terdengar, kita semakin kebal terhadap apa yang seharusnya menjadi lonceng peringatan,” kata Francis melalui email.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved