Human Interest Story
Yasin Rahman, Pengrajin Batu Bata Merah di Gorontalo yang Setia pada Tradisi
Meski batu bata putih semakin populer di kalangan masyarakat, Yasin tetap setia memproduksi batu bata merah, sebuah warisan tradisi yang semakin langk
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
"Kami memproduksi juga tergantung yang membeli," kata Yasin sambil melirik tumpukan batu bata yang belum terjual.
Yasin juga mengingat momen saat pemerintah memberikan bantuan berupa sekop, semen, dan pacul melalui program kelompok. Meski tidak besar, bantuan ini sangat berarti bagi kelangsungan usahanya.
Modal awal yang dikeluarkan Yasin untuk memulai usaha ini dulu hanya sekitar Rp1.750.000, jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan saat ini.
Upah untuk 1.000 batu bata waktu itu hanya Rp40.000, sebuah angka yang hampir tidak mungkin ditemui di masa sekarang.
Meskipun kondisinya sulit, Yasin tidak pernah menyerah. Usaha batu bata merah ini merupakan sumber utama pendapatan bagi keluarganya.
Namun, ketika pesanan batu bata benar-benar berhenti, Yasin tidak tinggal diam. Ia mencari alternatif lain dengan berkebun dan menanam sayuran yang kemudian dijual di pasar Kamis Tapa.
"Pengambilan batu bata merah ini sekarang sudah berkurang, jadi kadang saya berkebun untuk melanjutkan hidup," tandas Yasin, menggambarkan keteguhan hatinya dalam menghadapi tantangan kehidupan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Yasin-Rahman-asal-Desa-Kopi-Bulango-Utara-Bone-Bolango-15-tahun.jpg)