Human Interest Story

Yasin Rahman, Pengrajin Batu Bata Merah di Gorontalo yang Setia pada Tradisi

Meski batu bata putih semakin populer di kalangan masyarakat, Yasin tetap setia memproduksi batu bata merah, sebuah warisan tradisi yang semakin langk

Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
FOTO: Jefri Potabuga, TribunGorontalo.com
Yasin Rahman asal Desa Kopi, Bulango Utara, Bone Bolango, 15 tahun masih bertahan jadi perajin batu bata merah di era gempuran batu bata putih. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Yasin Rahman (54), seorang warga Desa Kopi bertahan di tengah derasnya arus modernisasi yang melanda desa-desa di Gorontalo.

Warga Bone Bolango itu tetap teguh pada profesi yang telah digelutinya selama 15 tahun terakhir.

Meski batu bata putih semakin populer di kalangan masyarakat, Yasin tetap setia memproduksi batu bata merah, sebuah warisan tradisi yang semakin langka.

Pada hari Selasa (13/8/2024), di sela-sela kesibukannya mencetak batu bata, Yasin berbagi cerita kepada TribunGorontalo.com.

Baca juga: Kapolda Gorontalo Temukan Indikasi Penimbunan Solar di SPBU, Siap Tindak Tegas Pelaku

Dengan tangan yang penuh dengan bekas kerja keras, ia menuturkan bahwa profesi ini bukanlah pilihan yang mudah, apalagi di masa sekarang, di mana permintaan untuk batu bata merah terus menurun drastis.

"Selama 15 tahun itu tidak selalu bekerja, tergantung ada yang pesan, ini saja kami baru mulai ulang," ujar Yasin dengan senyum kecil yang penuh ketabahan.

Dalam usaha yang penuh dengan ketidakpastian ini, Yasin tidak bekerja sendirian. Dua orang karyawan setia masih membantu Yasin mencetak batu bata setiap hari.

Baca juga: Sekretaris Golkar Boalemo Gorontalo Terkejut Airlangga Hartarto Mundur dari Ketum

Namun, pasar untuk produk mereka semakin terbatas. Sebagian besar pembeli hanya berasal dari daerah sekitar, seperti Tapa dan Bulango Utara.

"Kendalanya itu pembeli, kalau tidak ada yang pesan ya tidak membuat lagi," jelasnya dengan nada yang pasrah.

Yasin menceritakan bahwa dalam sebulan, ada kalanya ia sama sekali tidak menerima pesanan, memaksa dirinya dan karyawan untuk berhenti bekerja sementara waktu.

Harga batu bata merah yang diproduksi Yasin memang tergolong murah, hanya Rp 600 per biji. Namun, pesanan dalam jumlah besar semakin jarang terjadi. 

Baca juga: Totok Bachtiar Akan Segera Gelar Rapat Perdana DPRD Kota Gorontalo, Susun Tatib dan Kode Etik

Umumnya, pembeli hanya memesan sekitar 2.000 batu bata, dengan jumlah pesanan tertinggi mencapai 10.000 biji.

Meski demikian, Yasin dan timnya mampu memproduksi hingga 20.000 batu bata dalam dua bulan.

Proses ini memakan waktu cukup lama karena Yasin harus menunggu pesanan masuk sebelum mulai produksi.

Setelah itu, baru mereka bisa mulai membakar batu bata hingga siap dijual.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved