HUT RI di Gorontalo
Cerita Herman Prayogo Hidupkan Budaya Mohuyula di Gorontalo dan Menggerakan Pemuda
Herman Prayogo Mozin, atau yang akrab disapa Wawan itu membangkitkan kembali jiwa gotong royong dan kepedulian di kalangan mereka.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ketua-Pemuda-Molosipat-Bangkit-PMB-Herman-Prayogo-Mozin-Sabtu-1082024.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Di balik semangat pemuda di Kelurahan Molosipat W, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, terdapat satu sosok yang berperan penting.
Herman Prayogo Mozin, atau yang akrab disapa Wawan itu membangkitkan kembali jiwa gotong royong dan kepedulian di kalangan mereka.
Ia adalah seorang pemuda berusia 34 tahun yang telah menyalakan api perubahan di wilayahnya melalui organisasi Pemuda Molosipat Bangkit (PMB).
Cerita ini berawal dari keprihatinan Wawan terhadap karang taruna di kelurahannya yang telah lama tidak aktif dan tidak lagi memberi manfaat bagi warga sekitar.
"Karang taruna sudah tidak bisa memberikan dampak positif lagi.
Ini yang membuat saya berpikir bahwa pemuda harus bangkit dan mengambil peran penting dalam membangun wilayah ini," ungkap Wawan saat ditemui oleh TribunGorontalo.com, Jumat (9/8/2024).
Dengan semangat yang tak kenal lelah, Wawan memutuskan untuk mendirikan PMB, sebuah wadah yang tidak hanya menyatukan pemuda-pemuda Molosipat, tetapi juga menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.
Misi ini tidaklah mudah, mengingat pemuda di wilayah tersebut telah terbagi ke dalam beberapa kubu seperti "Kejar Tayang" di RW Satu, "Blok M," remaja Masjid Darussalam, "Lorong Kenangan," dan remaja Masjid Al-Ikhlas.
Namun, Wawan berhasil mempersatukan mereka semua di bawah payung PMB.
"Kami punya kubu sendiri-sendiri, tapi kami satukan jadi PMB," katanya dengan penuh keyakinan.
Setelah berhasil mengumpulkan para pemuda, Wawan merancang berbagai program kemanusiaan yang bertujuan untuk membantu warga Molosipat.
Salah satu program andalan mereka adalah "Jumat Berkah," di mana para anggota PMB mengumpulkan dana dari hasil patungan dan donasi dari pemilik toko serta figur-figur terkemuka.
Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli beras yang dibagikan kepada warga miskin, terutama lansia.
"Terutama yang lansia kami berikan beras ini," ujar Wawan, menjelaskan bagaimana mereka berupaya untuk meringankan beban warga yang membutuhkan.
Program lain yang tak kalah penting adalah sedekah kain kafan. PMB menyediakan stok kain kafan untuk warga, baik laki-laki maupun perempuan, yang diberikan secara gratis kepada mereka yang tidak mampu membeli atau tidak masuk dalam rukun duka.