Human Interest Story
Cerita Eliyanto, 16 Tahun Jadi Sopir Bentor Berhasil Kuliahkan 3 Anak
Eliyanto (54) seorang sopir bentor di Kota Gorontalo bercerita perjuangan hidupnya untuk menguliahkan ketiga anaknya.
Penulis: Fernandes Siallagan | Editor: Ponge Aldi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Eliyanto-54-Sopir-Bentor-di-Kota-Gorontalo-vv.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Eliyanto (54) seorang sopir bentor di Kota Gorontalo bercerita perjuangan hidupnya untuk menguliahkan ketiga anaknya.
Sehari-hari harus bertarung dengan waktu untuk menarik bentornya di jalanan Kota Gorontalo.
Yanto selalu mengetem di depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Otanaha Kota Gorontalo.
Ia harus bangun dari tidurnya sejak subuh untuk memastikan pelanggannya dapat berangkat tepat waktu.
Hingga malam hari tiba, setiap hari, setiap minggu, dan kini sudah 16 tahun ia menjalani runitas tersebut.
Dari keringat yang ia cucurkan ketika mengantar penumpang, rupanya Yanto berhasil menguliahkan tiga dari empat anaknya.
"Tiga anak saya kuliah di UNG, satu masih sekolah kelas tiga SMA, InsyaAllah nanti kuliah juga," kata Yanto kepada TribunGorontalo.com, Jumat (9/8/2024).
Katanya, pendidikan anaknya merupakan satu hal yang diperjuangkannya agar mudah menggapai cita-cita.
Yanto mengakui bahwa perkuliahan anaknya tidak serta-merta dari usaha dan jerih payannya.
Melainkan mendapatkan bantuan beasiswa dari pemerintah yakni Bidikmisi.
"Kuliah di sini enak, karena seperti digaji, jadi anak-anak tinggal fokus kuliah," tambahnya.
Kendati begitu, ia menjelaskan beasiswa tersebut tidak dapat diandalkan sepenuhnya. Karena ada keperluan lain yang harus dipenuhinya.
Seperi biaya praktik, transportasi, dan bekal anak-anaknya. Termasuk biaya ujian.
Di balik bentornya, Yanto meneruskan ceritanya sambil mengenang masa lampau.
Diungkapkannya ia merupakan perantau asal Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Serdang Begadai, Provinsi Sumatra Utara.
Alasannya bisa sampai di Kota Gorontalo karena memiliki tinggil di kampung halaman sang istri.
Ia tidak pernah membayangkan untuk tinggal di daerah dengah julukan Serambi Madinah ini.
Namun karena ketekunan hatinya, akhirnya ia mampu bekerja dan menghidupi keluarga melalui bentor.
Padahal di kampungnya, alat transportasi bentor disebut sebagai becak dengan posisi penumpang duduk di sebelah kiri.
"Saya menyesuaikan dengan bentor karena butuh cari makan untuk anak dan istri di sini. Akhirnya bisa dan sudah 16 tahun jadi sopir," tutupnya
| Sosok Loli Antuke, Marbot Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo |
|
|---|
| Kisah Annisa Tungkagi, Eks Nakes Gorontalo Rintis Kedai Kopi Jalanan |
|
|---|
| Kisah Ibrahim Pakaya, Kakek 71 Tahun Penjual Gulali di Taman Kalimadu Gorontalo |
|
|---|
| Sosok Abdul Gias Tomayahu, Penulis Muda Asal Leboto Gorontalo Peraih 4 Medali Emas Nasional 2025 |
|
|---|
| Cerita 2 Pemudi Jualan Takjil Ramadan di Kota Gorontalo |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.