Human Interest Story
Cerita Cindradewi Tangahu Berjuang Demi Pulihkan Pendengaran Anak
Cindradewi, yang juga merupakan anggota Komunitas Forum Komunikasi Orang Tua Anak Hebat (Forkah), menceritakan perjalanan emosionalnya.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-seorang-pria-menggunakan-alat-bantu-pendengaran.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Di tengah tantangan besar, Cindradewi Tangahu tak pernah menyerah dalam perjuangannya untuk memulihkan pendengaran anaknya, Aisyah, yang saat itu baru berusia delapan bulan.
Kegiatan yang dimulai pada Senin (5/8/2024) ini mengungkapkan sebuah kisah penuh dedikasi dan harapan.
Cindradewi, yang juga merupakan anggota Komunitas Forum Komunikasi Orang Tua Anak Hebat (Forkah), menceritakan perjalanan.
Ketika Aisyah berusia enam bulan, suaminya mulai curiga karena anak mereka belum bisa mengucapkan kata-kata dasar.
“Yang seharusnya sudah bisa dilakukan di usia tersebut, ternyata tidak ada pada Aisyah,” ungkap Cindra.
Cindradewi membawa Aisyah ke tiga dokter spesialis anak di Gorontalo.
Meskipun hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Aisyah dinyatakan normal, tidak ada respons terhadap panggilan.
“Kami tidak berhenti di situ. Kami melanjutkan pencarian solusi dengan mengunjungi dokter THT dan melakukan tes Oto Acoustic Emission (OAE),” jelas Cindra.
Hasil tes menunjukkan bahwa Aisyah mengalami gangguan pendengaran profound (110db) di kedua telinganya.
“Hasilnya menunjukkan gangguan ketulian yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan,” tambah Cindra.
Karena keterbatasan alat di Gorontalo, Cindra memutuskan untuk membawa Aisyah ke Makassar, di mana fasilitas medis lebih lengkap.
Di Makassar, dokter menyarankan agar Aisyah menjalani operasi Implan Koklea, satu-satunya cara untuk memulihkan pendengarannya.
Selama proses ini, Cindra banyak berdiskusi dengan anggota Forkah, komunitas yang menjadi wadah berbagi informasi dan edukasi tentang anak tunarungu.
“Dari diskusi tersebut, saya mengetahui bahwa anak saya sebenarnya masih bisa mendengar dengan bantuan alat,” ujar Cindra.
Ia kemudian memulai usaha mengumpulkan dana sejak tahun 2019, dimulai dari pinjaman dan tabungan pribadi.
Setelah empat tahun perjuangan finansial, pada tahun 2023, Cindra akhirnya berhasil melunasi biaya operasi.
“Kini Aisyah sudah bisa mendengar dengan normal berkat alat tersebut,” tuturnya dengan penuh syukur.
Cindradewi kini berjuang untuk memperjuangkan deteksi dini gangguan pendengaran di Gorontalo.
Ia mengkritik kurangnya fasilitas deteksi dini di puskesmas dan klinik-klinik serta kurangnya data yang akurat mengenai penyandang disabilitas tunarungu.
“Banyak penyandang tunarungu di Gorontalo yang tidak terdeteksi sejak dini. Pemerintah harus memperhatikan deteksi dini dan penyediaan alat yang lengkap,” tegasnya.
Menurut Cindra, meskipun alat bantu pendengaran sudah tersedia, tanpa terapi holistik seperti AVT (Auditory Verbal Therapy) dan terapi bicara, hasilnya tidak optimal.
“Perjuangan untuk memulihkan pendengaran anak tidak mudah. Teknologi saja tidak cukup tanpa dukungan terapi yang memadai,” tambahnya.
Cindradewi berharap agar ada peningkatan fasilitas dan layanan untuk anak-anak dengan gangguan pendengaran di Gorontalo, sehingga mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih baik dan lebih produktif di masa depan. (*)
| Tips Kuat Puasa saat Bekerja ala Kasmat dan Sasmita, Pegawai Minimarket Gorontalo |
|
|---|
| Sejak 1985, Ridwan Baat Setia Jual Balon Karakter di Kota Gorontalo, Terbukti Mampu Sekolahkan Anak |
|
|---|
| Sosok Vecky van Gobel, Eks Juru Sita Pengadilan Gorontalo Kini Jadi Sopir Bentor |
|
|---|
| Kisah Yus Sahi Perintis Kopi Surplus Gorontalo: Makna Memanusiakan Manusia |
|
|---|
| Cerita Ismail Husin, Mahasiswa UNG Tekuni Dunia Jurnalistik |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.