Banjir Gorontalo

3 Minggu Ngungsi di Gedung Sekolah, 16 KK Warga Lekobalo Korban Banjir Gorontalo Kebingungan Makan

Sebagai informasi, Kelurahan Lekobalo pertama kali dihantam banjir pada 11 Juli 2024. Artinya, sudah tiga minggu pasca banjir, air belum juga surut. 

Penulis: Fernandes Siallagan | Editor: Wawan Akuba
FOTO: Fernandes Siallagan, TribunGorontalo.com
Pengungsi sedang berkumpul di gedung sekolah terbengkalai di Kelurahan Lekobalo, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Selasa (30/7/2023). 

TRIBUNGORONTALO.COM, GorontaloKorban banjir Kelurahan Lekobalo, Kecamatan Kota Barat Gorontalo masih mengungsi, Selasa (30/7/2024).

Sebagai informasi, Kelurahan Lekobalo pertama kali dihantam banjir pada 11 Juli 2024. Artinya, sudah tiga minggu pasca banjir, air belum juga surut. 

Ada warga yang memilih mengungsi di rumah sanak saudara, sementara sebagian kecil telah kembali ke rumah yang airnya mulai surut.

Baca juga: Investasi Cerdas bersama Galeri 24, Beli Emas Tanpa Was Was

Sedangkan 16 kepala keluarga (KK) tercatat masih mengungsi di sebuah bangunan sekolah terbengkalai di wilayah perbukitan Lekobalo

Hapsa Pakili (50), salah seorang pengungsi, mengaku harus mengirit makanan dan memilih waktu untuk makan.

"Kalau makan pagi, malamnya tidak makan. Kalau makan malam, paginya tidak makan. Tinggal memilih, kata lainnya puasa," ungkap Hapsa kepada TribunGorontalo.com, Selasa (30/7/2024).

Baca juga: Kelapa Gorontalo jadi Komoditas Andalan, Rata-rata 65 Ribu Ton Per Tahun Produksinya

Selain masalah makanan, Hapsa juga mencemaskan pendidikan cucunya yang hingga kini belum kembali ke sekolah karena semua baju, buku, serta perlengkapan sekolahnya hanyut terbawa arus.

Padahal, tahun ajaran baru sudah dimulai sejak 15 Juli 2024.

"Saya belum bicara dengan sekolah, karena engga ada waktu ke sana. Selain itu karena engga ada transportasi juga," tambahnya.

Hapsa harus mengurus cucunya karena orang tua cucunya telah berpisah, dan suaminya yang sakit-sakitan sulit untuk berjalan apalagi beraktivitas.

Yamin Tanju (48), pengungsi lainnya, mengungkapkan kesulitan dalam mencari nafkah.

Sudah tiga minggu ia tidak menyusuri Danau Limboto untuk mencari ikan karena air yang begitu tinggi membuat ikan tidak tersangkut di jalanya.

Baca juga: Identitas Pelaku Pencabulan Anak Pengungsi Banjir di Tilango Gorontalo, Modus Pura-pura Tidur

"Kami hidup di pengungsian bersama keluarga yang harus dinafkahi," katanya.

Saat ini, para pengungsi sudah tidak mendapatkan bantuan lagi karena bantuan telah dihentikan pemerintah sejak seminggu yang lalu.

"Sudah tidak memiliki barang apapun karena tenggelam di rumah, sehingga tidak ada barang yang dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved