Update Kabar Dunia

Serangan Udara Bom FAB-3000 Rusia Hancurkan Markas Sementara Ukraina

Berat bom ini sekitar 3.000 kilogram [perkiraan 6.614 pon], menjadikannya salah satu bom terberat di gudang senjata Rusia. FAB-3000 menggunakan bahan

Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
Tangkapan layar video
FAB-3000 adalah bom udara berdaya ledak tinggi yang dikembangkan oleh Rusia. 

Komposisi pasti dari bahan peledak bisa berbeda-beda, tetapi biasanya merupakan campuran TNT dan bahan peledak tinggi lainnya.

Daya ledak FAB-3000 sangat besar mengingat ukurannya yang besar dan bahan peledak berdaya ledak tinggi.

Saat diledakkan, bom ini dapat menghasilkan ledakan besar, yang mampu menyebabkan kerusakan parah di area yang luas.

Radius ledakan bisa mencapai ratusan meter, dan gelombang kejut yang dihasilkan oleh ledakan dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada bangunan, infrastruktur, dan peralatan militer.

Bom ini dirancang untuk menembus dan menghancurkan target yang sangat dibentengi, menjadikannya senjata yang tangguh dalam persenjataan militer Rusia.

Sebelumnya diketahui ketegangan antara Rusia dan Ukraina semakin memanas pada 21 Februari 2022.

Rusia menyatakan bahwa fasilitas perbatasan mereka diserang oleh pasukan Ukraina, yang mengakibatkan kematian lima pejuang Ukraina.

Namun, Ukraina dengan cepat membantah tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai "operasi bendera palsu" (operasi yang dibuat untuk mengkambinghitamkan pihak lain).

Di hari yang sama, dalam sebuah langkah kontroversial, Rusia mengumumkan pengakuan resmi atas wilayah Donetsk People's Republic (DPR) dan Luhansk People's Republic (LPR) yang memproklamirkan diri sendiri.

Menariknya, menurut Presiden Rusia Putin, pengakuan ini mencakup seluruh wilayah Ukraina.

Setelah deklarasi ini, Putin mengirim satu batalyon pasukan militer Rusia, termasuk tank, ke wilayah tersebut.

Situasi terus memanas hingga akhirnya pada 24 Februari 2022, dunia dikejutkan oleh serangan militer besar-besaran.

Dipimpin oleh Angkatan Bersenjata Rusia yang sudah dikerahkan di perbatasan Ukraina, serangan ini bukanlah tindakan spontan melainkan aksi yang disengaja.

Meskipun situasinya tampak seperti perang, pemerintah Rusia menghindari penggunaan istilah tersebut. Mereka lebih memilih menyebutnya sebagai "operasi militer khusus." (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved