Banjir di Kota Gorontalo
Banjir Belum Surut, Warga Gorontalo Bikin Perahu Rakit dari Batang Pohon Pisang sebagai Transportasi
Warga Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Gorontalo, berinisiatif membuat perahu rakit untuk alat transportasi saat banjir.
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Sejumlah-warga-Gorontalo-naik-perahu-rakit.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Warga Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Gorontalo, berinisiatif membuat perahu rakit untuk alat transportasi saat banjir.
Masyarakat di sejumlah wilayah paling terdampak banjir di Kota Gorontalo, masih berkutat dengan genangan air yang belum surut total.
Pantauan TribunGorontalo.com, Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Limba B, Kecamatan Kota Selatan, masih tergenang air setinggi lutut orang dewasa pada Sabtu (13/7/2024) sore.
Jalan ini memang merupakan salah satu wilayah paling terdampak banjir di Kota Gorontalo.
Pada Sabtu (13/7) siang hingga sore, tampak ramai warga berlalu-lalang di tengah genangan air di Jalan Diponegoro.
Sebagian besar dari mereka adalah warga yang datang untuk mengecek rumahnya yang masih terendam air.
Beberapa menggunakan alat transportasi banjir berupa perahu rakit dari batang pohon pisang.
Rupanya, perahu tersebut merupakan karya warga setempat untuk membantu mobilitas warga di tengah kondisi banjir.
"Perahu rakit ini, inisiatif kami warga kompleks untuk membantu siapa pun yang butuh tumpangan," ujar Sadiq (53), warga kompleks Jalan Diponegoro kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (13/7/2024).
Kata Sadiq, warga kompleks yang sering nongkrong di depan RS Bioklinik menjadi inisiatornya.
Banyak dari mereka merupakan anak-anak muda.
"Kami ini satu tim, sering nongkrong di sini, ada koordinatornya juga, bahkan kami sering siaran langsung di FB," jelas Sadiq.
Tampak niat mereka begitu serius untuk saling membantu demi kemanusiaan.
"Di perahu ini bisa naik 3 hingga 5 orang, tanpa pandang ras, mau orang Cina, orang Arab, orang Gorontalo asli, kami tolong semua," jelasnya.
Sadiq juga mengatakan bahwa penumpang yang naik biasanya warga lanjut usia (lansia), anak-anak, para tenaga kesehatan yang membawa obat, serta pasien RS Bioklinik.