Stunting Gorontalo
Stunting di Kabupaten Gorontalo Masih Tinggi, 34,7 Persen Balita Alami Kerdil Pertumbuhan
Dalam survey tersebut ditemukan angka 34,7 persen balita di Kabupaten Gorontalo mengalami stunting, atau kerdil pertumbuhan.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1592023_stunting.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan angka yang mengkhawatirkan.
Dalam survey tersebut ditemukan angka 34,7 persen balita di Kabupaten Gorontalo mengalami stunting, atau kerdil pertumbuhan.
Angka ini jauh melampaui target nasional 14 persen dan menjadikan Kabupaten Gorontalo sebagai daerah dengan prevalensi stunting tertinggi di Gorontalo.
Meskipun data dari aplikasi elektronik-pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (EPPG-BM) menunjukkan penurunan angka stunting, SKI tetap menjadi acuan utama.
Hal ini dikarenakan SKI dilakukan dengan metodologi yang lebih akurat dan menyeluruh.
Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Sukarni Ismail, menjelaskan bahwa stunting pada balita disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pola asuh, sanitasi, dan asupan gizi yang tidak memadai.
Upaya untuk menekan angka stunting terus dilakukan, dengan fokus pada intervensi spesifik dan sensitif dari berbagai OPD.
Salah satu fokus utama adalah pemberian makanan yang tepat, terutama bagi bayi di bawah 1.000 hari pertama kehidupan dan ibu hamil.
"Pendampingan kami sekarang pada ibu hamil dan usia remaja anak, karena untuk memutus mata rantai stunting cuma disitu," jelas Sukarni.
Pemerintah Kabupaten Gorontalo terus berupaya keras untuk menurunkan angka stunting dan memastikan semua anak di Gorontalo dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.