Gorontalo Terkini
Viral Pupuk Palsu Beredar di Gorontalo, Ombudsman Buru-buru Ngecek, Temuannya Mengejutkan
Merespon informasi ini, Ombudsman Perwakilan Gorontalo bersama Pupuk Indonesia melakukan pengecekan langsung.
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/pupuk-yang-diduga-palsu-di-Gorontalo-Kamis-2062024.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Sebuah video dan foto memperlihatkan pupuk jenis Phonska viral di Media Sosial Facebook beberapa waktu lalu.
Beragam foto dan video ini disebarkan masyarakat Kabupaten Gorontalo sejak beberapa hari lalu.
Mereka protes hingga menghimbau masyarakat lainnya untuk berhati-hati.
Setelah ditelusuri, pupuk yang diduga palsu itu beredar di Kecamatan Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo.
Merespon informasi ini, Ombudsman Perwakilan Gorontalo bersama Pupuk Indonesia melakukan pengecekan langsung.
Pjs Kepala Ombudsman Perwakilan Gorontalo, Wahyudin Mamonto menjelaskan setelah dilakukan pengecekan ternyata pupuk yang diduga palsu merupakan pupuk asli.
"Kami sudah cek, itu tidak palsu, teman-teman Pupuk Indonesia menjamin itu pupuk asli," ungkapnya kepada TribunGorontalo, Kamis (20/6/2024)
Lebih lanjut Wahiyudin mengatakan pupuk jenis Phonska yang beredar dimasyarakat memang pupuk yang berbeda dari sebelumnya.
Diketahui pupuk tersebut merupakan pupuk bersubsidi dari pemerintah dan telah tersebar di wilayah Gorontalo.
"Tekstur pupuk, warna hingga bahan bakunya berbeda dari sebelumnya namun untuk manfaat dan kegunaan tetap sama," jelasnya
"Jadi ketika sampai ke masyarakat mereka kaget, karena mereka terbiasa dengan pupuk Phonska sebelumnya jadi dikira palsu," tambahnya
Olehnya, karena hal ini Wahiyudin mengatakan pihak pupuk Indonesia akan melakukan sosialisasi terhadap petani terkait pupuk varian baru tersebut.
"Pupuk Indonesia ini mau melakukan sosialisasi terkait pupuk ini, cuman duluan viral jadi miss nya disitu, tapi kedepan sosialisasi akan dilakukan," tuturnya
"Katanya kuncinya cuman dua itu aja, belum ada sosialisasi dan masyarakat belum mendapatkan informasi jadi dikira palsu," tandasnya (*)