Gorontalo Terkini
Aksi Teatrikal Walhi Gorontalo di Hari Lingkungan Hidup
Aksi itu digelar di Jembatan Talumolo II, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, sore tadi. Uniknya aksi itu diisi oleh aksi teatrikal 'Bumi Menderita
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Hari-Lingkungan-Hidup-Sedunia-Rabu-562024.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Organisasi lingkungan, Walhi Gorontalo mengelar aksi di momen Hari Lingkungan Hidup, Rabu (5/6/2024).
Aksi itu digelar di Jembatan Talumolo II, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, sore tadi. Uniknya aksi itu diisi oleh aksi teatrikal 'Bumi Menderita'.
Ini merupakan aksi teatrikal dengan memperlihatkan seorang wanita yang dipenuhi lumpur disekujur tubuh.
Sekujur tubuhnya direkatkan ranting pohon. Tak hanya itu, kedua kakinya diberi pemberat agar sulit bergerak.
Wanita itu berjalan dari ujung jembatan Talumolo II hingga ke tengah.
Dalam perjalanan wanita itu terus berteriak 'Bumi Menderita' sebagai penanda dirinya adalah keadaan bumi saat ini.
Sontak hal ini mengundang decak kagum. Diwarnai epuk tangan dari masa aksi, masyarakat hingga pihak kepolisian yang mengamankan aksi.
Tak sedikit juga pengendara yang melewati jembatan itu tertarik melihat aksi teatrikal, terlihat dari raut wajah pengendara baik motor, bentor maupun mobil.
Aksi teatrikal wanita itu sontak menjadi tontonan banyak orang, tak sedikit pengendara yang berhenti bahkan sengaja mengurangi kecepatannya.
Aksi teatrikal wanita itu diawali dengan rintihan 'bumi menderita' dengan banyak sampah mengelilingi.
Setelah itu membaca puisi tentang penolakan terhadap eksploitasi alam. Bentuk pengrusakan terhadap alam dianggap mengacam keberlanjutan lingkungan hidup.
Diberitakan sebelumnya para demonstran menuntuk dampak eksploitasi alam yang berakibat membahayakan lingkungan hidup.
Salah satu orator aksi demo, Erga Palutungan mengatakan ekploitasi alam berakibat fatal pada kehidupan lingkungan. Hal ini dianggap bisa menimbulkan kerusakan.
"Sampai kapan kita mau melakukan ekploitasi hutan, saatnya berhenti untuk melakukan eksploitasi," ungkapnya
Sementara itu juga Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Arief Abas mengatakan dalam oratornya invasi industri ekstraktif telah mengakibatkan terjadinya perampasan ruang hidup, perubahan bentang alam
"Yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya peningkatan bencana ekologis di provinsi gorontalo," jelasnya
Arief menjelaskan hilangnya tutupan hutan sebagai dampak dari aktivitas keruk masif industri ekstraktif akan semakin memperparah krisis iklim yang terjadi saat ini.
"Vegetasi yang harusnya menyerap karbon pada proses fotosintesisnya, justru telah ditebang. hal ini menyebabkan semakin tingginya konsentrasi karbon di atmosfer," ujarnya
Selain ia juga menyinggung soal tagline dekarbonisasi pada 2060. Menurutnya sepertinya jauh panggang dari api.
"Di hadapan korporasi, negara justru tak berkutik bahkan menyediakan karpet merah bagi izin-izin investasi yang destruktif," tandasnya (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.