Human Interest Story

Cerita Asep, Perantau Asal Jawa Barat Jualan Bakso di Gorontalo

Cerita Asep (53), pria asal Jawa Barat yang sudah 5 tahun merantau di Gorontalo.

|
Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto Cerita Asep, Perantau Asal Jawa Barat Jualan Bakso di Gorontalo
TRIBUNGORONTALO/ATIKA OTAHA
Cerita Asep (53), pria asal Jawa Barat yang sudah 5 tahun merantau di Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Cerita Asep (53), pria asal Jawa Barat yang sudah 5 tahun merantau di Gorontalo.

Asep berjualan bakso di perantauan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Sebelumnya Asep sudah pernah merantau ke Sumatera bahkan sampai ke Malaysia demi menghidupi keluarganya.

“Saya sudah merantau ke mana-mana, sebelumnya saya merantau ke Sumatera dan Malaysia,” ujarnya pada TribunGorontalo.com, Rabu (1/05/2024).

Asep menambahkan di Sumatera ia bekerja sebagai penjual sandal dan di Malaysia sebagai cleaning service di Universitas.

Sebelum merantau, dirinya pernah merintis usaha kaos kaki di Jawa. Namun karena adanya virus Covid-19 usahanya bangkrut.

Meskipun sudah pernah gagal merintis usaha kaos kaki, akan tetapi ia tidak berputus asa untuk melanjutkan usahanya dengan merantau ke Gorontalo.

Namun usahanya pun kandas akibat Covid-19 yang juga melanda bumi Serambi Madinah ini.

Sehingga saat itu Asep memutuskan untuk membantu temannya yang memiliki usaha bakso kacang.

Kini dirinya pun menjajakan baksonya di lingkungan kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Penghasilan yang didapatkan sekitar Rp 300 ribu per hari, namun bersihnya hanya Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu dari hasil jualan tersebut. Sebab ia harus menyetor kepada temannya pemilik gerobak bakso

“Penghasilan saya Rp 300 ribu per hari, tetapi bersihnya sekitar Rp 200- 250 ribu, karena saya harus menyetor ke teman saya,” lanjutnya.

Bakso tersebut dijual dengan harga Rp 1 ribu per biji. Selain itu, juga ada tahu yang dijual dengan harga yang sama.

Asep memiliki istri dan empat orang anak. Namun Ia nekat merantau seorang diri tanpa membawa keluarganya.

“Di Gorontalo saya hanya sendiri, anak dan istri saya berada di Jawa,” imbuhnya.

Asep merasa bersyukur dengan bekerja sebagai perantau di tanah orang, namun ia bisa menyekolahkan anak pertamanya ke Institut Pertanian Bogor (IPB).

“Saya sangat bersyukur anak pertama saya bisa kuliah di IPB meskipun hanya program D3,” tutupnya. (Magang/Atika Otaha)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved