BKKBN Gorontalo
BKKBN Bersama Baznas Canangkan Intensifikasi dan Integrasi Pelayanan KB/KR di Kota Gorontalo
BKKBN bersama Baznas mencanangkan kegiatan intensifikasi dan integrasi pelayanan KB/KR wilayah Kota Gorontalo.
Penulis: Fernandes Siallagan | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KKBN-bersama-Baznas-mencanangkan-kegiatan-intensifikasi-dan-integrasi-pelayanan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – BKKBN bersama Baznas mencanangkan kegiatan intensifikasi dan integrasi pelayanan KB/KR wilayah Kota Gorontalo.
Kegiatan ini digelar di Kantor Camat Kota Tengah, Kota Gorontalo pada Selasa (30/4/2024).
Bukan hanya sekadar sosialisasi, di sini juga dilaksanakan pelayanan untuk KB seperti kontrasepsi jangka panjang dan juga jangka pendek.
Hal ini dilakukan guna mencegah terjadinya stunting. Sebab pemicu stunting pada bayi dikarenakan 4T.
Yang terdiri dari terlalu tua, terlalu muda, terlalu dekat (jarak antar anak, dan terlalu sering.
Sehingga penggunaan kontrasepsi untuk mencegah 4T tadi sangat dibutuhkan untuk pencegahan stunting.
Selain itu diadakan juga demo memasak olahan produk lokal untuk menambah nutrisi pencegah stunting pada anak-anak.
Pembuatan bubur, nugget ikan, dan jagung pelangi. Bahan-bahan itu mudah dijangkau dan mudah di dapat di Gorontalo.
Melalui kegiatan ini, Walikota Gorontalo, Marten Taha, mengatakan harapannya agar segenap warga turut ber-KB.
KB sendiri bukan hanya mengenai pembatasan dua anak, melainkan untuk merencanakan mengenai keluarga.
Terlebih mengenai jarak antara anak, usia ibu, serta kualitas hidup pada anak di masa depan.
"Laki-laki perempuan sama saja, ini untuk menciptakan generasi yang tangguh di masa yang akan datang," kata Marten, Selasa (3/4/2024).
Dengan begitu tujuan percepatan penanganan stunting di Indonesia bisa tercapai.
Rencananya, angka stunting di Nasional pada 2024 akan digenjot ke angka 14 persen.
Sementara itu angka stunting di Kota Gorontalo pada 2022 sudah berada di 19 persen. Namun pada 2023, angka itu melambung ke 23 persen oleh Survey Status Gizi Indonesia.