Rabu, 11 Maret 2026

Jalan Ringroad Gorontalo

Tanggapan Sosiolog Momy Hunowu Soroti Soal Pembangunan Jalan Ringroad Gorontalo

Sosiolog Gorontalo soroti pembangunan Jalan Ringroad Gorontalo atau Gorontalo Outer Ring Road (GORR).

Tayang:
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto Tanggapan Sosiolog Momy Hunowu Soroti Soal Pembangunan Jalan Ringroad Gorontalo
Youtube Momy Hunowu
Sosiolog IAIN Gorontalo Momy Hunowu 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Sosiolog Gorontalo soroti pembangunan Jalan Ringroad Gorontalo atau Gorontalo Outer Ring Road (GORR).

Diketahui, Jalan Ring Road Gorontalo dibangun untuk menghubungkan Bandara Djalaluddin Gorontalo hingga Pelabuhan Gorontalo sepanjang 46,2 km. Jalan ini melintasi Kabupaten Gorontalo, Kota Gorontalo hingga Kabupaten Bone Bolango.

Dikutip dari djpb.kemenkeu.go.id, Pembangunan fisik GORR ini menggunakan dana APBN sebesar Rp  951,84 miliar, yang dilakukan pembangunan dari tahun 2014 terbagi ke dalam tiga segmen. Artinya jalan ini sudah 10 tahun tapi belum rampung.

Saat ini masih tersisa segmen tiga sepanjang 15,2 kilometer dari Tapa sampai Pelabuhan Gorontalo. Segmen ini awalnya diperkirakan selesai pada 2022 tapi molor karena terkendala pembebelasan lahan yang harus dilakukan pemda.

Sosiolog IAIN Gorontalo Momy Hunowu mengatakan mandeknya pengerjaan jalan ringroad akan berdampak ke permasalahan sosial kompleks pada dimensi yang saling terkait.

Maksud dari gejala sosial kompleks adalah suatu gejala sosial dipengaruhi banyak faktor seperfi kondisi geografis, ekonomi, sosial, budaya, psikologis, politik dan bahkan agama. 

Pembangunan jalan GORR yang terhenti ini tidak hanya akan berdampak pada masalah ekonomi, namun seluruh aspek yang saling berkaitan.

Kata Momy, pengerjaan pembangunan jalan GORR yang sempat terhenti ini diduga adanya indikasi dari konflik antar pemangku kepentingan.

"Misalanya pemerintah, kontraktor dan masyarakat lokal," ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (27/4/2024).

Momy menduga adanya pertarungan antara pemangku kepentingan yang satu dengan yang lain yang sehingga berakibat kepada terhentinya pembangunan ini dari segi sumber daya.

Kata Momy, adaya eksistensi dari komunitas lokal juga yang merasa bahwa dengan proyek ini bisa merugikan mereka dan pastinya mengabaikan hak-hak mereka apalagi bersangkutan dengan lahan.

"Misalnya yang dijanjikan segini, tapi pada saat eksekusi yang diterima hanya segini, adapula masyarakat lokal yang bertahan, tidak mau menyerahkan," lanjutnya.

Momy juga menilai kemandekan dari proyek jalan GORR ini disebabkan oleh tidak berjalan dengan bagus sistem good governence yang ada di pemerintahan Gorontalo saat ini.

"Mungkin adanya manajemen yang buruk pada sistem pemerintahan saat ini, seperti korupsi. Itu juga bisa buat proyek terhenti," imbuhnya.

Momy pun berharappemerintah Gorontalo bersama pihak terkait bisa segera menyelesaikan proyek tersebut dengan cepat.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved