Human Interest Story
Cerita Rahmini Pengrajin Wadah Ketupat di Gorontalo, Kesulitan karena Harga Janur Kuning Naik
Tangan-tangan cekatannya tak henti menganyam janur kuning, membungkus puluhan ketupat yang akan menghiasi meja makan keluarga di Gorontalo.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Penjual-ketupat-di-Pasar-Sentral-Kota-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Hiruk pikuk Pasar Sentral Kota Gorontalo pada Lebaran Ketupat, lapak Rahmin selalu ramai dikunjungi pembeli.
Tangan-tangan cekatannya tak henti menganyam janur kuning, membungkus puluhan ketupat yang akan menghiasi meja makan keluarga di Gorontalo.
Tradisi membuat ketupat telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Rahmin sejak tahun 2000-an.
Setiap tahun, ia tak pernah absen menjajakan hasil karyanya di Pasar Sentral.
Tahun ini, Rahmin merasakan sedikit perbedaan. Kenaikan harga janur yang signifikan, dari Rp 200 per ujung menjadi Rp 500-600 per ujung, membuatnya harus mengurangi jumlah ketupat yang dibuat.
"Dulu bisa buat ribuan, sekarang hanya sekitar 600 bungkus," ungkap Rahmin dengan senyum.
Meskipun demikian, semangatnya tak pernah padam. Ia terus melestarikan tradisi ini, dibantu oleh anak-anaknya.
Bagi Rahmin, Lebaran Ketupat tak hanya tentang makanan, tetapi juga tentang kebersamaan dan tradisi.
Ia berharap tradisi ini akan terus dilestarikan oleh generasi muda, sebagai pengingat akan nilai-nilai luhur dalam kehidupan.(Magang/Atika)