Tumbilotohe Gorontalo
Tradisi Tumbilotohe Mulai Semarak, Warga Kota Gorontalo Berbondong-bondong Pasang Lampu Hias
Di Jalan 23 Januari, Kelurahan Ipilo, Kecamatan Kota Timur, terlihat antusiasme warga dalam mempersiapkan Tumbilotohe.
Penulis: Andika Machmud | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2832024_menghiasi-jalanan-untuk-tradisi-Tumbilotohe.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Menjelang akhir bulan Ramadan 1445H/2024M, tradisi Tumbilotohe mulai semarak di Kota Gorontalo.
Warga di berbagai kelurahan berbondong-bondong memasang lampu hias untuk memeriahkan malam takbiran.
Di Jalan 23 Januari, Kelurahan Ipilo, Kecamatan Kota Timur, terlihat antusiasme warga dalam mempersiapkan Tumbilotohe.
Lampu-lampu hias berwarna-warni, baik elektrik maupun dari botol, menghiasi jalanan dan gang-gang.
Baca juga: Tumbilotohe Mulai Beralih ke Lampu Tumblr, Budayawan Gorontalo: Etnis Semakin Maju
Fadli Sahi, bendahara kegiatan Tumbilotohe di wilayah Ipilo, menjelaskan bahwa persiapan sudah dimulai sejak seminggu sebelum Ramadan.
Warga dapat memilih untuk mendonasikan lampu hias atau dana untuk pembelian lampu.
"Yang membuat dekorasi lampu adalah warga sekitar Ipilo, dan yang bekerja juga adalah muda-mudi di sini," ungkap Fadli kepada TribunGorontalo.com, Kamis (28/3/2024).
Tahun ini, wilayah Ipilo akan didominasi dengan lampu hias berwarna putih. Menurut Fadli, warna putih dipilih karena lebih menggambarkan nuansa Islami.
Baca juga: Tumbilotohe dari Botol Kaca Mulai Tergerus Lampu Tumblr, Iin Sutomo: Itu Bukan Budaya Gorontalo
"Kita juga akan menambah spot foto untuk pengunjung, seperti bulan sabit dan kubah masjid," tambahnya.
Lebih dari 600 lampu hias telah disiapkan, namun Fadli masih terkendala dengan kurangnya lampu hias putih berukuran 10 meter.
"Sekarang yang banyak cuma yang ukuran delapan meter, kalau cari yang 10 meter itu susah," tuturnya.
Fadli dan sekitar 20 warga lainnya bergotong royong memasang lampu hias dari selesai Tarawih hingga sahur. Jika ada kerusakan, mereka akan segera memperbaikinya.
Dana yang digunakan untuk kegiatan ini murni berasal dari swadaya masyarakat. Fadli berharap pemerintah dapat membantu menyediakan dana atau lampu hias untuk tahun depan.
"Semoga pemerintah bisa memberi bantuan dana ataupun lampu, karena ini tradisi untuk pariwisata juga," tandasnya.
Baca juga: Lampu Botol Laris Manis Jelang Tumbilotohe Gorontalo, Tradisi Menyambut Lailatul Qadar
Tradisi Tumbilotohe merupakan tradisi unik yang hanya ada di Gorontalo.
Tradisi ini menjadi daya tarik wisata dan momen kebersamaan bagi masyarakat Gorontalo menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Apa itu Tumbilotohe?
Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo konon telah berlangsung sejak abad 15. Dahulu, masyarakat menggunakan wamuta (sejenis seludang), tohetutu (damar), dan padamala (wadah dari kima, kerang, atau pepaya) sebagai penerangan.
Seiring waktu, tradisi ini berkembang dengan penggunaan minyak tanah dan kini lampu listrik.
Tradisi ini bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki makna religius dan sosial. Tumbilotohe mencerminkan rasa syukur atas datangnya bulan Ramadhan dan menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Cahaya yang terang benderang melambangkan kemenangan iman dan harapan baru.
Malam Tumbilotohe menjadi malam paling ramai di Gorontalo. Ribuan lampu hias dipasang di berbagai sudut kota, diiringi lantunan pantun dan atraksi budaya.
Tradisi ini menjadi ajang silaturahmi dan hiburan bagi masyarakat. Biasanya digelar tiga hari sebelum lebaran Idulfitri.
Keunikan Tumbilotohe terletak pada penggunaan lentera tradisional yang dihiasi janur kuning dan dihiasi dengan pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu sebagai lambang keramahan.
Formasi lentera yang indah dan atraksi budaya seperti meriam bambu dan festival bedug menambah semaraknya tradisi ini.
Tumbilotohe merupakan tradisi unik yang tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia. Tradisi ini memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara.
Walaupun tradisi serupa dengan nama berbeda terdapat di daerah tetangga Gorontalo seperti Maninjulo Lambu di Bolmut dan Sumpilo Soga di Bolsel, Tumbilotohe di Gorontalo memiliki keunikan dan kemeriahan yang berbeda.
Tradisi ini menjadi ikon budaya Gorontalo yang patut dilestarikan dan dipromosikan.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.