Minggu, 15 Maret 2026

Talkshow Tribun Gorontalo

Pj Gubernur Gorontalo Ismail Pakaya Singgung Masalah Tenaga Kerja hingga Stunting di Talkshow Tribun

Setelah sebulan sebelas Pj Gubernur Ismail Pakaya merasa ada tiga pr (pekerjaan rumah) yang perlu segera diatasi.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Fernandes Siallagan | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Pj Gubernur Gorontalo Ismail Pakaya Singgung Masalah Tenaga Kerja hingga Stunting di Talkshow Tribun
TribunGorontalo.com
Pj Gubernur Gorontalo (kemeja putih)menjadi pembicara dalam talk show di Kantor TribunGorontalo.com, Kamis (21/3/2024). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Pj Gubernur Ismail Pakaya merasa ada tiga pekerjaan rumah (PR) pemerintah saat yang perlu segera diatasi.

Diketahui masa jabatan Ismail Pakaya sebagai Penjabat Gubernur Gorontalo tinggal sebulan lagi.

Maka dari itu, ia menekankan pentingnya percepatan dalam menyelesaikan tiga hal berikut.

Tenaga Kerja

Pertama, penyerapan tenaga kerja. 

Menurutnya penyerapan tenaga kerja di wilayah Gorontalo adalah hal yang harus segera dilakukan.

Gorontalo sekarang masih didominasi pertanian. Karena itu sangat dibutuhkan pembukaan lapangan pekerjaan di sektor-sektor formal.

Potensi yang sangat besar untuk berkembang di sektor-sektor lain selain pertanian.

Karena itu akan dapat menyerap lapangan pekerjaan yang banyak dan merata di provinsi ini.

"Masa-masa yang akan datang berpeluang untuk anak-anak kita bekerja," ucap Ismail di talkshow "Tribun Mengawal Tiga Dasawarsa Kota Gorontalo dan Tiga Abad Kota Gorontalo", Kamis (21/3/2024).

Pemerintah memerlukan kolaborasi dari semua pihak demi meningkat lapangan di sektor formal. Termasuk semua pengusaha yang menggeluti sektor selain pertanian.

"Bukan hanya pemerintah tetapi juga melibatkan teman-teman di dunia usaha ya," pungkasnya.

Pengangguran dan kemiskinan

Diketahui pada Mei 2023, pengangguran di provinsi Gorontalo berjumlah 19.742 orang.

Selain itu pada November 2023, angkatan kerja di Gorontalo berjumlah 651 425 orang. Sedangkan pekerja di sektor formal hanya 36,27 persen.

Selain itu penduduk yang bekerja di sektor nonformal lebih banyak yakni 63,73 persen.

Angka pekerja di sektor formal itu sebenarnya mengalami kenaikan dari tahun 2022, yakni sekitar 1,24 persen.

Akan tetapi melihat potensi sumber daya Gorontalo, maka perlu pemberdayaan di sektor formal.

Terlebih Gorontalo masih masuk ke provinsi termiskin kelima dari 34 provinsi di Indonesia.

"Apakah urutannya sudah turun atau bagaimana belum tahu. Soalnya provinsi sekarang sudah 38," ungkapnya.

Menurut datanya, Gorontalo masih masuk ke kemiskinan ekstrem yakni di atas dua persen.

Rencana pemerintah pusat, kemiskinan ekstrem di Indonesia harus nol persen pada 2024.

Baca juga: Dian Nugraha Kepala Perwakilan BI Ungkap Perekonomian Gorontalo hingga Strategi Pengendalian Inflasi

Masalah Stunting

Selain itu, masalah stunting juga masih cukup besar di Gorontalo. Berdasarkan data, angka stunting di Gorontalo mencapai 26 persen pada 2023.

Oleh sebab itu, masalah ini pun sama pentingnya dengan penyerapan tenaga kerja dan pemberantasan kemiskinan.

Sebab stunting bisa menjadi satu penyebab terkendalanya penyelesaian masalah lainnya.

Karena itu, menurut ismail pakaya penyelesaian masalah stunting harus dilakukan 'by name by addres'

Sehingga bisa melakukan intervensi pangan langsung terhadap bayi maupun balita yang diduga mengalami stunting.

Namun yang menjadi kendalanya adalah data itu hanya didapat dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Sehingga data yang didapat hanya berupa angka, bukan alamat maupun identitas penyintas.

Oleh sebab itu, pihaknya masih kesulitan dalam menangani stunting yang masih tinggi di Gorontalo.

Sementara pemerintah pusat juga menargetkan pemberantasan masalah stunting hingga 14 persen di Indonesia.

"Melihat angka yang saat ini masih tinggi, cukup membingungkan. Sebab pemberantasan bukan hanya di pihak provinsi" jelas Ismail.

Termasuk di kabupaten/kota, kecamatan, bahkan desa/keluarahan. Pihak Danrem 113/Nani Wartabone turut membersamai pencegahan ini.

Di desa, ada yang disebut Ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) yang turut memberikan makanan tambahan ke balita terduga stunting.

Karena itu, angka stunting di Gorontalo masih terus di genjot agar mengalami penurunan.

Terutama pemanfaatan sumber daya alam lokal dan menangani pelbagai masalah di Gorontalo.

Sehingga dengan angka stunting yang berkurang, SDA bisa dimanfaatkan oleh SDM Gorontalo itu senditi.

Kemudian tercipta lapangan pekerjaan formal serta kemiskinan pun diberantas.

Untuk itu, menurutnya Gorontalo memiliki potensi yang sangat besar untuk mengalami kemajuan.

Kota Gorontalo sendiri sudah berusia 296 tahun dan Provinsi Gorontalo berusia 23 tahun di 2024 ini.

"Semoga di usia memasuki 30 tahun, dengan pemimpin yang baru bisa mencapai indikator yang lebih baik," tutupnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved